Saturday, October 22, 2011
kisah 32
Cerita ni bermula bulan lepas. Dekat rumah aku, ada awek bernama Seha. Dia belajar di ITM dengan aku. Dah lama jugak aku perhatikan jiran aku tu, tapi aku baru dapat kenal dengan dia masa dia langgar kereta aku. Rumah aku dengan rumah dia memang satu baris. Cuma dipisahkan 5 rumah. Dia orangnya manis! Aku suka betul tengok mukanya kalau berselisihan di jalan. Semenjak peristiwa dilanggar keretanya, aku jadi rapat dengannya. Kadang-kadang dia suka tumpang aku kalau nak ke kuliah sebab dia malas bawak kereta sendiri. dan kebetulan kuliah aku dengan dia tak jauh sangat. Dalam kereta, dia selalu cerita tentang keluarganya atau kawannya. Kebetulan masa tu di radio ada topik mengenai bohsia. Jadi, aku dengan dia concentrate. Akhirnya aku dengan dia bertukar cerita-cerita masalah cinta masing-masing. Dia mengaku yang dia dah pernah ada balak setahun yang lalu. Dia putus hubungan dengan balaknya, Dan kecewa dengan balak tu. Sebelum tu aku heran juga, kenapa orang semanis dia, takda balak. Tapi dia tak cakap apa masalah dengan balaknya. dan setelah aku desak, akhirnya dia mengaku yang dia sekarang ini lesbian!!! Aku terkejut juga waktu dengar tu, dan aku nasihatkan dengan dia, kalau bisex itu lebih bagus daripada lesbian.
Dia mengaku yang teman lesbiannya itu course-matenya sendiri, namanya Rina. Akhirnya dia janji, yang dia akan kenalkan temannya itu dengan aku balik kuliah nanti! Lepas balik kuliah jam 2, aku datang ke rumah Seha. Dan dia mempersilakan aku masuk ke rumahnya. Rumahnya kosong dan yang ada cuma pembantunya. Aku dikenalkan dengan Rina teman Seha. Ternyata Rina tu pun cute! Walaupun tak secute Seha, tapi bodinya itu!hmmmmmm, sedap betul mata memandang. Akhirnya kami bertiga borak panjang, sampai aku merasa mengantuk betul! Aku cuba tahan mengantuk tadi tertidur jugak. Akhirnya Seha, suruh aku tidur dalam bilik dia. Aku OK aja, asalkan aku boleh tidur.
Aku tak tau berapa lama aku tidur. Yang aku tau, bila aku terjaga, aku ngerasa ada benda yang anih betul pasal diri aku! bila aku bangun, aku terkejut betul melihat yang aku dah naked! Dan aku lihat Seha dengan Rina jugak dah topless, cuma pakai seluar pendek! Dan yang lebih buat aku terkejut lagi, batang aku dijilat Seha, dan Rina lagi menjilat tetek Seha! Aku tersentak, tapi aku sendiri tak boleh buat apa-apa lagi! Aku merasakan kenikmatan yang luar biasa betul masa batang aku dijilat Seha. Seha dengan Rina juga terkejut bila tengok aku bangun, tapi diorang tak stop, malah Seha terus masukkan batang aku ke dalam mulutnya dan menghisap batang aku, sementara Rina bercemolot dengan aku. Tentu saje aku balas ciuman Rina. Tangan aku juga mula berani meraba badan Rina, mula dari teteknya yang solid dengan putingnya yang kecoklat-coklatan. Dah puas kissing, terus aku disuakan dengan tetek Rina. Aku lahap aja teteknya bergantian kiri kanan, dan tangan aku mulai merayapi kelangkangnya. Tangan aku mula bermain-main di bibir vaginanya yang tersembunyi di balik panties dan seluarnya. Malah terus dia buka seluar dengan seluar dalamnya, dan terlihatlah pantatnya yang kelihatan betul terpelihara rapi, dengan bulu-bulu halus yang diatur dengan indahnya. Aku mainkan kelentitnya yang ada di dalam bibir vaginanya, dan aku usap-usap sampai Rina bergerak ke kanan-ke kiri. Terus dia malah menyuakan pantatnya untuk aku hisap. Aku main kelentitnya dengan lidah aku, bahkan sampai aku sedut dengan mulut aku! Rina makin bergoyang, dan mengerang. Sementara itu, Seha masih mengulum batang aku. aku lihat dia, memainkan lidahnya di batang aku. Gila, aku fikir masa Seha menyedot-nyedot batang aku. Setelah lama dia blow job aku, aku lihat dia dah mulai bernafsu. Akhirnya dia duduk di kangkangan aku, dan mulai memasukkan batang aku ke dalam vaginanya. Dia duduk menghadap ke aku, sambil turun naik. Aku lihat wajahnya yang biasanya manis dan lembut kelihatan garang waktu bergoyang. Tangannya malah meramas-ramas d da aku. Mula-mula, nampak susah dia menggerakkan badannya, sebab vagina dia masih kering. Tapi lama-kelamaan, akhirnya gerakan turun naiknya Seha mula lancar, malah dia sambil turun naik bergoyang-goyang melicinkan batang aku dengan vaginanya. Aku cuma boleh mengerang, sebab lidah aku sendiri bermain di vagina Rina. Setelah bermain denagn indah Rina selama 10 minit, kelihatan Rina mula mengerang. Aku cepatkan gerakan lidah aku, dan jari tangan aku mula masuk ke dalam indah. Rina makin bergoyang, sambil mengerang keras. Dari vaginanya muncul cairan vagina yang rasanya agak hamis. Tapi entah kenapa, aku suka betul dengan ! aromanya dan aku malah tambah bersemangat memainkan vaginanya. Setelah 10 minit lagi, Rina mula nampak akan mendapat orgasme yang pertamanya. Cairan yang keluar dari vaginanya makin mengalir deras, dan diakhiri dengan cairan orgasmenya. Setelah Rina mencapai orgasme, dia turun dari tempat tidur, dan langsung masuk ke bilik air membersihkan vaginanya.
Sementara itu Seha mula giat melancarkan gerakan turun naiknya. Bunyi yang dikeluarkan dari vaginanya sebab gesekannya dengan batang aku keras sebab diikuti denagn bunyi lelangkangnya yang beradu sama paha aku. Setelah berlangsung selama 15 minit, mula nampak yang dia nak cum. Akhirnya aku mula ambil inisiatif ubah posisi. Aku bangun dan mulai main dengan posisi doggy style. Seha nampak suka betul tengok aku mula tukar posisi, dan dia ikut aje masa aku suruh bangun dan buat doggy. Aku cepatkan gerakan masuk-keluar batang aku. Sebab aku rasa nak sangat orgasme dalam indah Seha. Lepas 4 minit, akhirnya aku orgasme sama-sama dengan Seha, tapi di luar vaginanya Seha sebab aku takut kalau jadi apa-apa nanti. Seha nampak letih betul dan terkulai di tempat tidur, terus aku kissing aja dia.
Tapi tak lama kemudian, Rina keluar dari kamar mandi, dan dia minta buat aku fuck dia. Akhirnya aku berganti-ganti kongkek dengan Rina, sebab aku takut dia frust. Dan akhirnya aku stay sampai malam kat rumah Seha fuck dengan Seha dan Rina beberapa round lagi.
Sampai-sampai rumah aku kepenatan dan pulang ke rumah lepas jam 8. Dan lepas kejadian itu, akhirnya Seha mengaku yang dia sebenarnya dah lama betul suka dengan aku dan lama membayangkan fuck dengan aku sekali dengan teman lesbiannya si Rina. Semenjak itu, aku selalu datang ke rumah Seha untuk fuck, berdua dengan Seha saja atau bertiga dengan Rina. Benda ni dah berlaku selama sebulan ini, dan aku menikmati betul hubungan ini. Kadang-kadang kami berdua atau bertiga suka sewa tempat di luar kota buat threesome. Syok woi!
kisah 31
"Aaahh.. hh.. huh enaknya ya Mam, rasanya kalau sudah keluar nich," begitu kata Tony seorang bapak berumur 45 tahun, bapak dari dua orang anak kepada istrinya Dewi, ibu berumur 38 tahun.
"Iya nich Pap, Mama juga rasanya masih lemes, abis Papa mainnya kok masih kuat aja, masa udah hampir satu jam tidak keluar-keluar."
"Iya tapi Mama kan juga kuat melayani Papa," ujar Tony.
"Ah Papa bisa aja nich ngerayu Mama.."
Akhirnya setelah mereka bermain cinta selama hampir dua jam Tony dan istrinya sama-sama terdiam untuk mengumpulkan energi mereka yang telah terkuras dan masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri-sendiri. Akhirnya Tony mulai membuka percakapan sambil memeluk tubuh telanjang istrinya,
"Mam tidak terasa ya kita sudah menikah selama dua puluh tahun dan telah dikaruniai dua orang anak si Anton dan Intan, rasanya baru kemarin mereka kita timang-timang sekarang kok taunya si Anton sudah kelas 1 SMA (17 tahun) dan Intan sudah kelas 2 SMP (15 tahun), dan mereka pintar-pintar lagi".
"Iya-ya Pap, memang tidak terasa ya, tapi menurut Papa untuk urusan seks apakah mereka sudah cukup tau nggak ya? Soalnya mama takut mereka mendapat informasi yang salah tentang apa seks itu, menurut Papa bagaimana?" tanya Dewi kepada suaminya.
Lama Tony terdiam memikirkan perkataan istrinya tadi dan akhirnya dia berkata,
"Mam bagaimana kapan ada waktu yang tepat kita berempat berkumpul bersama untuk membahas masalah tersebut. Bagaimana Mam?"
"Hmm.. boleh juga, tapi.. bagaimana kalau sekarang aja Pap ini kan juga belum terlalu malam baru jam sepuluh dan lagian juga khan mereka besok tidak ada sekolah."
"Ya udah Papa bersihin 'burung' Papa dulu ya, rasanya lengket nih, sekalian ambil piyama dulu oke."
"Yaa, Papa nggak usah ambil piyama segala.. dibersihin aja tapi nggak usah pake piyama lagi!"
"Loh Mama gimana sih masa Papa telanjang gini?"
"Loh katanya mau diskusiin masalah seks, jadi sekalian ada contohnya gitu."
"Dan Papa jadi contohnya?" kata Tony kebingungan.
"Lah iya , nanti kalo giliran Papa yang ngajarin nanti gantian Mama yang jadi contohnya, gimana oke!"
"Tapi Mama yakin ini tidak apa-apa?"
"Iya.." kata Dewi tidak sabar, "Udah deh Papa abis cuci 'burungnya' Papa, Papa tunggu di sini ya dan jangan pake apa-apa lagi ya, Mama mau keluar manggil Anton dan Intan."
Setelah berkata demikian Dewi dengan hanya mengenakan daster tipisnya, (tipis di sini coba dibayangkan bagian dada dan bagian vitalnya hanya tertutupi oleh hiasan renda-renda di dasternya tersebut dan tingginya hanya sejengkal dari lutut), langsung keluar untuk memanggil anak-anak mereka.
"Anton!! Intan!! coba kalian ke sini sebentar!" panggil Dewi dari lantai atas.
"Ya Mam, ada apaan sih Mam?" kata Anton dan Dewi.
"Gini mulai malam ini kalian tidur di atas ya, sama Papa dan Mama!"
"Loh kok tumben Mam, emangnya adapan sich lagian tempat tidurnya muat apa?" kata Anton bertanya.
"Iya nih Mama ada-ada aja," sambung Intan.
"Nggak.. mulai malam ini Papa dan Mama ada yang mau diomongin bersama kalian jadi kita ngomong-ngomong sebelum tidur gitu. Udah deh sekarang kalian ke kamar aja, Papamu udah nungguin tuh!" kata Dewi dengan sabar kepada anak-anaknya.
Setelah itu Dewi dan anak-anaknya berjalan menuju ke kamar orang tuanya, dimana Tony telah menunggu istri dan anak-anaknya sambil berselimut untuk menutupi tubuh telanjangnya. Kemudian setelah mereka telah berkumpul di kamar yang luas itu sambil bersila di ujung ranjang kedua anaknya pun menanyakan ada apa karena tidak biasanya mereka disuruh tidur bersama orang tuanya mereka.
"Begini Anton, Intan.." kata Dewi memulai percakapan, "Kalian kan sudah besar, kamu Ton sudah kelas I dan sebentar lagi mau kelas II dan kamu Wi sudah kelas II dan tidak lama lagi kamu akan masuk ke SMA dan kamu tau khan pergaulan kayak sekarang gini, Papa dan Mama tidak mau kalau kalian terjerumus dengan pergaulan yang tidak-tidak. Hmm ngomong-ngomong Mama dan Papa pengen tau kalian udah punya pacar belum sih?"
"Kalau Anton sih belum punya Pap, nggak tau tuh kalau Dewi udah punya apa belum?"
"Kalau Dewi sama kayak Mas Anton belum punya juga."
"Ya udah kalau gitu Mama sekarang mau ngasih pelajaran mengenai seks kepada kalian oke."
"Sekarang Mam?" tanya Anton dan Dewi kebingungan.
"Iya sekarang, khan mumpung kalian masih libur, udah sekarang Ton coba kamu berbaring di samping Papamu and kamu Tan sini deketan sama Mama!"
"Sekarang Mama mau memberikan penjelasan mengenai bentuk anatomi seorang laki-laki, udah Pap buka dong selimutnya masa masih selimutan aja," kata Dewi kepada suaminya. Tony yang dari tadi hanya terdiam memperhatikan istrinya yang cantik itu memberikan penjelasan kepada anak-anaknya kemudian membuka selimutnya secara perlahan-lahan.
"Ih Papa kok telanjang sih?" ujar Intan terkejut.
"Iya nih Papa kok telanjang sih?" sambung Anton yang tidak kalah terkejutnya melihat papanya sendiri berbaring telanjang dengan batang kemaluannya yang masih kecil mengkerut dengan bulu kemaluan yang tidak terlalu lebat dan terpotong rapi (untuk soal itu Dewi cukup rajin merawat rambut suaminya yang satu ini).
"Loh kan Papa dan Mama mau ngasih pelajaran seks kepada kalian, gimana sih kalian ini," ujar Tony kepada kedua anaknya.
"Ayo Mam sekarang Mama yang ngasih pelajaran terlebih dahulu."
"Oke Pap," ujar Dewi kepada suaminya.
"Nah anak-anak coba kalian duduk di sini!" sambil menyuruh agar Anton duduk di samping kanan papa dan Dewi dan Intan sendiri duduk di sisi kiri papanya semetara itu Tony hanya berbaring setengah duduk saja di tengah-tengah ranjang dikelilingi istri dan anak-anaknya.
"Coba kalian perhatikan tubuh Papa kalian!" ucap Dewi kepada anak-anaknya, "Begini ini bentuk tubuh seorang laki-laki, buat kamu Ton ini bukan hal yang aneh tapi buat kamu Intan jangan merasa jijik atau ngerinya ini kan juga Papa sendiri oke!"
"Oke Mam!" ujar Intan.
Kemudian dengan secara perlahan Intan memperhatikan tubuh papanya yang walaupun sudah berumur badan papanya itu tetap berotot dan belum terlalu kendor. "Coba kamu Int ikuti Mama ya!" sambil berkata demikian Dewi mengelus dada suaminya secara perlahan kemudian Intan mengikuti gerakan mamanya mengelus dada papanya. Tony yang dadanya dielus-elus oleh dua tangan yang halus itu mulai merasa keenakan juga. Kemudian setelah cukup lama, perlahan-lahan tangan Dewi makin turun ke arah selangkangan suaminya bersama dengan tangannya Intan dan ketika sampai pada kemaluan suaminya Dewi berujar,
"Nah Intan ini yang namanya Penis."
"Oooh.." Intan hanya dapat berkata demkian.
"Dan kamu tau Intan, kalau kontol pria jika sedang bernfsu dapat membesar."
"Emangnya bisa Mam?" tanya Dewi dengan lugu.
"Ya bisa sayang. Coba kamu lihat Mama ya, nanti kamu coba sendiri."
Kemudian Dewi memegang batang kemaluan suaminya dengan lembut, kemudian secara perlahan dikocoknya penis suaminya itu.
"Aaah stt.. Mam hmm.." ucap Tony kepada istrinya ketika penisnya mulai dikocok-kocok dan makin lama ukuran penis Tony makin lama makin membesar (tapi belum menyampai ukuran maksimal).
"Eh iya.. Mam, Mama bener juga tu kontolnya Papa mulai gede tuh," kata Intan.
"Nah sekarang coba kamu ke sini Int.. sekarang kamu yang coba ya.."
"Tapi Mam, Intan nggak bisa.."
"Intan sini sayang nanti Papa yang kasi tau oke, sini sayang, biar Mamamu gantian yang ngajarin Anton, tuh Mam anakmu kasian dari tadi dia diamin aja," kata Tony kepada istrinya.
Anton yang dari sedari tadi melihat perbuatan mamanya itu hanya dapat terdiam dan sesekali menelan air ludahnya dan tanpa disadarinya penisnya pun mulai membesar.
"Ton panggil Dewi, coba kamu berbaring di samping Papamu!"
Anton pun tanpa berkata-kata berbaring sambil setengah duduk di sisi papanya. Kemudian Dewi pun bergeser di samping anaknya dan secara perlahan mulai menurunkan celana pendek anaknya itu.
"Wau.. Pap coba lihat punya anakmu ini, sampai tidak muat loh celana dalamnya," kata Dewi kepada suaminya dan kemudian dengan perlahan pula celana dalam Anton dibukanya pula.
"Ton kamu tenang aja ya kamu lihat, pelajari dan nikmatin saja apa yang Mama ajarin kepada kamu ya, kamu juga Intan kamu dengerin yang Papamu ajarin ya.."
"Ya Mam," jawab mereka berdua.
"Wah.. Ton punyamu tidak kalah sama Papamu yah.. tapi ini kok bulu jembutnya berantakan gini sih. Nanti kapan-kapan Mama cukurin ya."
Kemudian sama dengan suaminya, Dewi pun mulai mengocok penis anaknya secara perlahan-lahan.
"Ahh stt.. Mama kok enak banget sih Mam, ah.. ah aduh Mam stt.." ucap Anton ketika mamanya terus mengocok penisnya itu.
"Hmm.. stt kamu cepet pinter juga ya Int.." kata Tony memuji anaknya (walaupun masih kaku gerakannya).
"Nah gitu nak.. ngocoknya, aduh ahh.. jangan kenceng-kenceng dong megangnya!" kata Tony kepada putrinya, "Nah.. gitu stt.. hmm.. ya gitu baru bener. Sekarang coba kamu lebih cepet deh ngocoknya."
Intan pun mulai mempercepat kocokan tangannya di batang kemaluan papanya.
"Ah.. ah.. ah.." Tony hanya dapat menegangkan seluruh tubuhnya demi menahan rasa nikmat yang diberikan putrinya ditambah lagi dilihatnya istrinya masih sibuk mengocok penis putranya.
"Aduh.. stt Mam.. enak banget Mam!! aduh.. ah.. ah.. terus Mam.."
"Gimana yang enak nggak Mama kocokin?" tanya Dewi kepada putranya.
"Ii.. ii. iya Mam enak Mam.. stt.. akhh aduh Mam.. Mam.. Anton.. hmm.. udah dulu Mam Anton mau pipis dulu nih, udah nggak tahan Mam! Mam.. udah Mam!"
Dewi tanpa memperdulikan teriakan anaknya terus mengocok-ngocok penis anaknya dengan cepatnya.
"Udah Ton kalau kamu mau pipis, pipis di sini aja.." ucap Dewi sambil terengah-engah menahan birahinya yang dirasakan mulai meninggi itu dikarenakan melihat suami dan putra mengeliat-geliat keenakan dan semakin lama dirasakan penis anaknya makin membesar dan makin keras denyutannya dan tanpa disadari vaginanya pun mulai terasa lembab dikarenakan mulai merembesnya cairan yang keluar dari dalam vagina Dewi.
"Yaa.. Mama khaan malu Mam sama Papa dan Intan, masa di sini akhh.. Sih.. akh.. ahh.." protes Anton.
"Udah nggak apa-apa nanti Papamu juga kayak kamu," ujar Dewi dengan sabar.
"Bener nih Mam stt.. Ah.. ah.. akh.. Mam udah Mam.. ah.. hah.. hah.. akhh.."
"Crett.. creett.. crreet.." dan tanpa dapat ditahan lagi Anton mengeluarkan air maninya dengan derasnya kurang lebih empat sampai enam kali semburan mengalir dengan derasnya membasahi perut, dada, tangan mamanya, bahkan sampai sempat mengenai wajah Dewi dikarenakan kuatnya semburan maninya tersebut. Kemudian dengan penuh kasih sayang dibersihkan penis anaknya dengan handuk yang ada.
"Ahh Mam ngilu Mam," ujar Anton ketika kepala penisnya tersentuh oleh tangan mamanya.
Di dalam hati Dewi bergumam, "Ini anak udah keluar kok kontolnya masih tegak sih persis seperti papanya."
"Ih.. Papa, Mas Anton kenapa itu?" tanya Intan melihat kakaknya.
"Masmu itu namanya baru mengalami puncak kenikmatan," jawab Tony.
"Kok Papa kok belum kayak Mas Anton sih, khan Intan udah pegel nih ngocokin terus."
"Ya.. udah kamu istirahat dulu biar Mamamu yang gantiin, Mam sini coba kamu terusin kasian anakmu udah capek.."
"Hmm Papa nich.." sambil berkata demikian tangan Dewi mulai mengocok penis suaminya.
"Akhh.. akhh.. ah.. ah.. Mam rasanya kok kurang pas ya.. coba Mama pake mulut dong!" kata Tony.
"Intan, Anton kamu liat Mamamu ini ya.." kata Tony kepada anaknya.
"Loh Mam.. kok kontolnya Papa dimasukin ke mulut Mama sih, nggak jijik Mam?" tanya Intan.
"Ya nggak dong yang malah rasanya enak loh, nah kamu liat ya.."
Kemudian penis suaminya pun dilahapnya dengan penuh nafsu, dimainkannya penis suaminya dengan lidahnya di dalam mulut.
"Akhh.. stt.. hmm enak Mam.. Wau Mam.. enak ba.. nget Mam.." teriak Tony ketika penisnya mulai dikocok-kocok dengan mulut Dewi.
"Ahh dijepit dong Mam.. nah gitu terus Mam.." sambil terus meracau tangan Tonya mulai menaik-turunkan kepala istrinya dengan cepat seolah-olah dia sedang menyetubuhi mulut istrinya dan sepuluh menit kemudian, "Mam.. ahkkhhk Mam.. Papa mau keluar nich.. Mam stt.. stt.."
"Creett.. Crreet.. Crreett.." dan akhirnya tertumpahlah seluruh air mani itu di dalam mulut istrinya.
"Ah enak sekali Mam.. Nah Anton gimana kamu tadi rasanya enak nggak dikocokin sama Mamamu?"
"Enak banget Pap," jawab Anton sambil memperhatikan kelakuan orang tuanya ia terus mengelus-elus kepala penisnya.
"Oke Anton, Intan sekarang gantian Papa yang memberikan pelajaran kepada kalian."
"Yap, sekarang Papa yang memberikan pelajaran kepada kalian berdua, coba Mam kamu sekarang berbaring!"
Kemudian Dewi membaringkan tubuhnya yang masih ditutupi oleh gaun tidur di tengah tempat tidur sambil dikelilingi oleh anak-anaknya dan suaminya sendiri duduk di antara selangkangannya.
"Nah anak-anak coba kalian buka baju Mama kalian!" perintah Tony kepada kedua anaknya.
Secara perlahan-lahan kedua tangan anaknya menurunkan tali penahan baju ibunya dari bahunya hingga sebatas perut dan tampaklah kedua payudara ibunya yang besar dengan puting susunya yang mulai menonjol karena menahan birahi sedari tadi.
"Mam, coba kamu ajarin Anton ciuman, biar nanti kalo dia sudah punya pacar, dia sudah tau caranya."
"Sini sayang, Mama ajarin kamu ya.."
Kemudian ibu dan anak tersebut mulai saling bersentuhan bibir.
"Hmm buka mulutmu sayang dan keluarkan lidahmu biar Mama isap lidahmu, hmm.. hmm ya begitu.."
"Intan coba kamu raba susu Mamamu ya.."
"Ya Pap," kemudian tangan Intan mulai menyentuh dada mamanya.
"Aaakhh.. kamu lagi ngapain sayang?" tanya Dewi kaget karena tiba-tiba dadanya dielus-elus oleh putrinya.
"Hmm.. ya gitu sayang.. ough terus sayang.." kata Dewi memberi semangat kepada anaknya sambil dia terus berciuman dengan putranya.
"Hmm.. nah sayang sekarang gantian kamu yang Mama ajarin ya.. sini sayang," panggil Dewi kepada Intan.
"Dan kamu Ton coba kamu cium susunya Mama."
Sekarang gantian Dewi dan putrinya yang saling berciuman sambil perpelukan dan putranya menciumi susu Mamanya.
"Akhh.. hmm.." erang Dewi di sela-sela aktivitasnya dengan Intan dikarenakan nikmatnya susunya diemut-emut, disedot, dan dijilat oleh Anton berganti-gantian antara yang kiri dan kanan.
"Hmm.. ya! anak-anak coba berhenti dulu," kata Tony menyuruh kedua anaknya untuk berhenti.
"Kenapa Pap?" tanya mereka kebingungan.
"Coba kalian perhatikan ini," sambil berkata demikian Tony menurunkan gaun istrinya yang sudah acak-acakan sehingga akhirnya tubuh istrinya tidak tertutup dengan selembar benangpun.
"Ini tempat dimana dulu kalian lahir dan merupakan sumber dari segala kenikmatan," ujar Tony kepada kedua anaknya.
"Coba Mam kamu naikkan dan pegang kedua kakimu agar anak-anak dapat melihatn memekmu dengan jelas!" perintah Tony kepada istrinya.
Kemudian Anton dan adiknya berpindah posisi di samping papanya sambil melihat belahan vagina mamanya yang jelas terlihat dikarenakan diangkatnya kedua kaki mamanya hingga hampir menyentuh perut.
"Coba kalian lihat indah bukan milik Mamamu ini," kata Tony sambil menunjuk ke arah vagina istrinya.
"Sekarang Ton coba kamu sentuh punya Mamamu ini, pelan-pelan!"
"Aaakhhk.. esstt.." desis Dewi perlahan seiring vaginanya disentuh oleh putranya.
"Tu.. kan Ton kamu lihat Mamamu keenakkan disentuh punyanya."
"Pap, Intan boleh ikutan nggak?"
"Loh ya boleh dong sayang," kata Tony.
"Sini kamu duduk di samping kakakmu dan ikutin apa yang dia lakukan!"
Kemudian keduanya sibuk mengelus-elus vagina mamanya secara bersama-sama. Naik-turun membelah bibir vagina mamanya.
"Ahh.. ahh.. ahh.. aduh.. Pap anak-anakmu kok pinter sich.. ah.. ah.. ah.. terus sayang terus.. ahh akk.." tiba-tiba Dewi menjerit keenakan karena tiba-tiba jari tangan Anton masuk ke dalam vaginanya.
"Ahh.. ststt.. sayang.. kamu pinter ya.. ahh.. ahh.. Intaan.. kamu apain itilnyaa Mamaa? Akhh.. eestss.." Dewi semakin histeris ketika klitorisnya digosok-gosok oleh putrinya.
"Ton, sekarang kamu tengkurap dech!" kata Tony kepada putranya.
"Buat apaan Pap?"
"Udah deh kamu turutin aja. Nah sekarang coba kamu cium punya Mamamu, kaya kamu ciuman tadi sama Mama ya.."
"Hmm kayak gini Pap?"
Sambil berkata demikian Anton kemudian langsung mencium bibir bawah mamanya.
"Ough.. Ton.. stt.. ah.. ah.. enak banget sayang.." kata Dewi.
Karena tidak tahan menahan nikmat yang dirasakannya sekarang pahanya Dewi menjepit kepala anaknya sembari tangannya menjambak-jambak dengan penuh nafsu rambut putranya.
"Akkhh.. ough.. ough.. ha.. ah.. ah.. terus.. sayang.. terus.."
Anton yang semakin bernafsu terus menjilat dan menghisap seluruh kemaluan mamanya sembari tangannya terus mengocok-ngocok vagina mamanya dengan cepatnya.
"Ahh.. Pap.. anak kita cepat pintarnya.. yachh.. esstt.. Pap.." kata Dewi kepada suaminya.
Sementara itu Tony tidak memperdulikan ucapan istrinya dikarenakan ia sendiri sibuk mencium payudara istrinya sebelah kanan dan Intan menghisap-hisap di sebelah kiri. Mendapat rangsangan dari mana-mana Dewi makin tidak dapat menahan birahinya yang semakin lama semakin memuncak.
"Ahh.. Anton sayang.. Udah.. dulu ya.. udah.. Ton.. ampun.. estt.. ah.. ah.. ah.. udah dulu.. ya sayang.."
Dewi berusaha melepaskan kepala anaknya dari selangkanganya, tetapi tiba-tiba tangan Tony memegang dengan kuat tangan istrinya sementara kakinya juga ditumpangkan di atas paha Dewi agar istrinya tidak bergerak-gerak.
"Stt.. tahan ya sayang.. nikmatin aja ya.. Int coba kamu tahan tangan dan kaki Mamamu kayak Papa ini biar kakakmu tidak terganggu."
Akhirnya Dewi hanya bisa pasrah terlentang tidak dapat bergerak-gerak karena kedua tangannya dipegang oleh suami dan putrinya dan kakinya terkangkang dengan lebar karena ditarik ke kiri dan ke kanan oleh kaki suami dan putrinya.
"Oh.. oh.. akhh.. akhh.. Pap.. udah dulu Pap.. Mama.. estt.. ah.. hah udakhh nggak tahan nich Pap.. akhh.. akhh.. Anton.. ahh.. serrt.. sertt.." dan tanpa dapat ditahan lagi akhirnya Dewi menyemprotkan puncak kenikmatannya ke muka dan mulut putranya.
"Ahkhh.. khaa.. ahh.. Wah Mama jadi lemes nich gara-gara kalian semua," ucap Dewi sambil mengusap wajah dan tubuhnya yang telah basah karena terkena keringatnya sendiri dan keringat suami dan anak-anaknya.
Tak lama kemudian setelah Dewi beristirahat sebentar.
"Ton, sekarang giliran kamu yang mempraktekkan apa yang telah papa-mama ajarkan sama kamu ke adikmu, oke. Tapi sebelumnya biar Mama dulu yang melakukannya, agar Intan tidak menjadi tegang."
Kemudian Dewi mendekat ke arah putrinya dan secara perlahan baju tidur yang dikenakan oleh putrinya itu dibukanya.
"Hmm.. badanmu bagus juga ya nak.. Mama sampai tidak tahu kalau kamu punya badan seindah ini," ucap Dewi setelah melepas seluruh penutup tubuh dari putrinya itu.
Diperhatikannya tubuh anaknya yang putih itu, rupanya walaupun Intan masih berumur 15 tahun dan berbadan mungil tetapi payudara yang dimilikinya sudah cukup menonjol dengan puting susu yang berwarna kemerah-merahan, warna khas puting anak remaja, kemudian vaginanya yang bisa dibilang masih botak itu juga berwarna kemerah-merahan.
"Ahh.. Mama jangan gitu ah, kan Intan jadi malu," kata Intan sambil menutup dadanya yang telanjang itu.
"Eh, jangan ditutup gitu dong masa kamu malu sama keluarga sendiri," kata Tony sambil sesekali menelan air liurnya sendiri demi melihat tubuh telanjang putrinya dengan payudara mungilnya itu sementara itu bagian vaginanya masih terlihat mulus dengan dihiasi bulu-bulu halus yang baru mulai tumbuh itu.
"Hmm.. sini sayang!" panggil Dewi sambil mendekap erat putrinya Dewi mencium dengan lembut bibir putrinya.
"Hmm.. mmh.. mm.. ibu dan anak itu kemudian berciuman sambil mereka berbaring berpelukan seolah-olah mereka sedang memeluk guling, sehingga kedua susu dan vagina mereka saling bertemu dan bergesek-gesek sehingga menimbulkan kenikmatan tersendiri baik bagi Dewi maupun Intan.
"Ohh.. ahkhh.. oh.. estt.. stt, Mam Intan diapain nich Mam?" erang Intan keenakan karena sambil berbaring telentang mamanya menciumi leher dan kemudian perlahan-lahan menjilat-jilat payudaranya yang makin lama makin mengeras itu.
Dewi makin bernafsu menciumi payudara anaknya itu dan dengan matanya ia menyuruh Tony untuk mendekat dan mencium payudara anaknya yang satu lagi.
"Mmm.. mm.. ehh.. Pap.. estt.." tanpa sadar Intan memegang kepala kedua orang tuanya dan makin menekan ke arah dadanya.
"Ahh.. Mas Anton.. khaa.. mu.. lagi.. ngapain Mas? stt.." jerit Intan.
Rupanya tanpa sepengetahuan mereka diam-diam Anton menyorongkan mukanya ke arah vagina adiknya dan terus menjilat-jilat dengan penuh nafsu. Dihisapnya bibir luar vagina dan lidahnya menyapu seluruh bagian dalam dari vagina adiknya itu terutama pada bagian daging yang dirasakannya mulai makin menonjol (rupanya secara tidak sadar Anton menjilati klitoris adiknya) yang mana hal ini makin membuat Intan makin merintih keenakan.
"Intan coba kamu sekarang menungging deh!" ujar Dewi.
"Mama mau memberikan pelajaran baru kepada kakakmu."
Intan kemudian berganti posisi, sekarang ia dalam posisi menungging sehingga payudaranya tergantung ke bawah dan pantatnya yang putih itu terpampang dengan bebasnya.
"Ton, coba kamu sekarang liat apa yang Mama akan ajarkan kepadamu."
Kemudian Dewi memegang kedua belah pantat putrinya kemudian diremas dan dibuka belahan pantatnya itu sehingga lobang anus Intan mulai tampak merekah karena kulit pantatnya tertarik.
"Kamu lihat ini Ton, ini juga merupakan sumber kenikmatan baik bagi laki, apalagi bagi perempuan," kata Dewi sambil tetap menahan posisi pantat anaknya.
"Masa sih Mam?" tanya Anton tidak percaya.
"Hm.. baik kamu liat sekarang bagaimana reaksi adikmu ini," jawab Dewi dan Dewi pun kemudian menjulurkan lidahnya dan pelan-pelan mulai menyapu belahan pantat anaknya.
"Ahh.. Mam gelii Mam.. stt Mam ampun.. Mam.. stt.." jerit Intan kegelian berusaha menjauhkan pantatnya dari muka mamanya tetapi apa daya ia tidak dapat bergerak kemana-mana karena papanya menahan tubuhnya dengan memeluk punggungnya dari bawah tubuh Intan dengan posisi berlawanan sambil mulutnya mengisap-isap payudara anaknya.
"Oughh.. Mam.. udah.. Mam.. geli.. Mam.. estt.. ahh.." erang Intan karena sekarang lidah mamanya mulai masuk ke dalam lubang anusnya yang masih sempit itu. Dewi yang melihat anaknya merintih-rintih makin berafsu mengeluar-masukkan lidahnya ke dalam lubang anus anaknya itu dan dengan tangannya iapun menyuruh Anton untuk mulai menjilat vagina adiknya.
"Ahh.. estt.. enak Mas.. iiyaa.. estt Mas.. di situ.. Mas.. jilat terus.. Mas.. ah.. ah.. ah.. hmm.. stt stt.. terus.. Mas.." racau Intan demi menerima rangsangan dari seluruh keluarganya dimana mamanya terus mengocok lubang pantat, kakaknya menjilat-jilat seluruh bagian vaginanya dan papanya menyedot-nyedot pentil susunya yang terus meruncing itu.
"Hu.. hu.. ah.. udah dong dulu Mam, Intan udah nggak kuat nich.. aggh.. Pap, ammpun lepasin dulu.. dong.. Intan nggak tahan.. stt.. aghh.. aghh.. ah.."
"Agghh.. Mama.. Intan udah nggak tahan Mam.. Maamma.. aghh.. ah.. ah.. ah.. Serrtt.. serrtt," lalu mendorong dengan kuat bagian pantatnya ke arah muka kakak dan mamanya akhirnya Intan mengeluarkan air maninya ke arah muka kakaknya.
"Ahh.. ohh.. udah dulu Kak, Intan capek banget nih," kata Intan karena walaupun sudah tersiram cairan kenikmatan dari adiknya, Anton masih terus saja menjilat-jilat vagina adiknya sambil berusaha menghisap seluruh cairan yang ada pada adiknya itu.
Akhirnya merekapun semuanya berbaring kelelahan tetapi walau hal tersebut terasa melelahkan tetapi tampaknya penis dari Tony dan anaknya masih tetap mengacung dengan kerasnya.
"Bagaimana anak-anak, Mam udah capek belum? Kalau belum capek nanti Papa terusin pelajarannya."
"Pelajaran apa lagi Pap, bukannya udah cukup pelajaran yang kita kasih tadi?" tanya Dewi kebingungan kepada suaminya.
"Loh Mama ini gimana sich, ini kan baru pembukaanya saja belum kepelajaran inti beserta variasi-variasi," jawab Tony sambil tersenyum-senyum.
"Haa.. maksud Papa..?"
Monday, October 17, 2011
kisah 30
N terdiam.
"Kak Suria?" Tiba-tiba terpacul nama itu.
N memandang ke muka Kak Ramlah.
"Kenapa dengan Kak Suria?" Tanya Kak Ramlah.
"Apakah dia masih dara?" Tanya N lagi dini pagi itu.
Kak Ramlah mengeluh.
"Kalau mak takde, Kak Suria juga takde. Dia tidur dengan member dia."
"Ooo kenapa begitu? Apakah dia juga mangsa ayah?" Tanya N tergambar wajah Kak Suria yang cantik itu.
"Ya, ayah ambil dara Kak Suria sebab tak dapat dara akak. Ayah paksa menyetubuhi dia. Macam rogol dialah," sambung Kak Ramlah.
"Jadi selalunya akaklah layan nafsu ayah bila mak takde. Kalau mak ada pun bila ayah nak dia cari akak juga. Adik Suria tak akan layan ayah. Dia benci pada ayah."
N merasakan dirinya bagai dipukul gelora. Namun itulah kenyataannya.
"Kuat nafsu ayah kak..." kata N.
"Yer, tapi ayah main sekejap je. Kongkek dengan kau lagi bagus. Batang kau ni mak oi besar panjang. Kau tahan lama tu yang seronok sebab kote kau ada dalam cipap akak berendam. Puas rasanya," Kak Ramlah mencepak.
"Sedap ke kak?" N tanya senyum.
"Urghh basah akak. Sedap sendat senakk tapi apapun Akak suka kongkek dengan N. Ko pandai main doggie," kata Kak Ramlah ketawa kecil sambil membelai batang N yang masih berdenyut-denyut itu.
Setelah beberapa ketika berbual, Kak Ramlah berbaring dan mengangkangkan pehanya. Memperlihatkan cipapnya kepada N. Cipap Kak Ramlah yang tersengih mempelawa kote N bermain di dalamnya. Kali ini Kak Ramlah dan N mengongkek ganas. Mereka bersetubuh sampai ke pagi keletihan.
N menconggak di kepalanya. Ayah angkatnya, Pak Bakar pasti ada skandalnya. Setahu dia Makcik Janah dan dua orang anak daranya telah dipakainya. Hebat si gemuk pendek berperut boroi itu. Tapi pada perkiraan N kena respek lelaki veteran seperti ayah angkatnya ini. Dia masih mampu mengocok puki wanita baik yang muda atau yang separuh baya.
Di belakang rumah induk, ada lima buah rumah sewa. Tugas N yang mengutip sewa rumah, mengenali penyewa di situ.
Kak Syikin, penyewa rumah No. 3 di belakang rumah induk, rendah orangnya, bergaya, lemah lembut, sopan, berbahasa dan tutur kata serta perawakannya manja. Masih muda orangnya baru 22 tahun dan sudah berkahwin serta berkulit cerah. Belum mempunyai anak. Memiliki payudara yang sederhana besar dan punggung yang bulat tunggek sedikit. Suaminya seorang buruh Telekom berusia 28 tahun.
"Duduk N. Rehatlah dulu borak-borak dengan akak," pelawa Kak Syikin membuka perbualan lalu ke dalam rumahnya.
Tugas N mengutip sewa bulanan. Selalunya dia akan singgah ke rumah Kak Syikin setelah mengutip semua sewa dari lain-lain penyewa. Sebabnya dengan Kak Syikin dia boleh berbual lama sikit dan Kak Syikin akan menjamunya dengan kuih yang dibuatnya sendiri. Itu yang N rasa seronok.
Pagi di kawasan belakang rumah induk tidak sibuk. Ramai anak-anak penyewa yang bersekolah pagi. Kak Syikin muncul semula dengan sepiring kuih akok dan dua cawan kosong, satu teko air teh yang dihidangkan dalam talam. Mereka duduk dianjung.
"Hah N, makanlah kuih tu, nih tehnya," pelawa Kak Syikin senyum.
"Baik Kak tima kasih," jawab N mengambil sepotong kuih akok lalu dimasukkan ke dalam mulutnya, mengunyah dan dilalukan dengan air teh melepasi tengkoroknya.
Cukup manis wanita muda di depannya. Memakai kemeja T tanpa coli sebab puting teteknya menongkat kemeja itu. Berkain batik. Mukanya bersih disapu dengan bedak sejuk. Harum. Senyumnya tetap terukir tanpa lekang-lekang.
"Akak tak makan sama?" Tanya N yang masih mengunyah kuih akok yang kedua.
"Kau makanlah N. Akak bila-bila boleh makan," jawab Kak Syikin lembut, "Mana Pak Bakar, ayah angkat kau tu?"
"O dia balik Pekan, Kak. Mak Hasnah sibuk dengan wanita UMNOnya," jawab N seperti biasa.
Kak Syikin menghela nafasnya. Agaknya dia merasa lega. N melihat wajah yang ayu itu. Boleh jatuh cinta dan sayang juga. Cuma Kak Syikin sudah bersuami. Takat boleh menikmati keayuan dari luar sahaja. Wajah dan tubuhnya ada iras penyanyi Allahyarhamah Rafeah Buang. Memang menawan dan untung suami dia dapat memilikinya.
Tinggilah tinggi
Tinggi tinggi burung di awan
Akhirnya engkau turun
Akhirnya turun mencari kawan
Terbang di awan
Turn mari ke dalam taman
Kalau mencari kawan
Mencari kawan biarlah padan
Bukan sahaja
Bukan saja kita kemari
Kita bercinta
Curahkan rahsia hati ke hati
Burung tempua
Sana sini mencari sarang
Kalau hati sudah suka
Samalah kita terbang pulang
Sebutir embun menitis
Seribu kuntum mengembang
Sepatah aku berjanji
Kau sebut kau ulang-ulang
Mencurah hujan membatu
Meresap ditelan bumi
Segala sumpah janjimu
Tak satu yang kau tepati
Tiada ku duga
Tiada ungkitan
Bagi mu tuan
Ku rela dilupakan
Ku diumpat jangan
Dikenang jangan
Berlalu kisah di taman
Bak mimpi diganggu siang
Disebut diingat jangan
Tak guna dikenang-kenang
"Tak bosan ke kak?"
"Bosan N. Nak buat macam mana? Sudah jadi isteri orang. Ginilah."
"Faham Kak. Carilah aktiviti.."
"Susah."
"Muda-muda apa yang susah Kak?"
"Muda tu okey N, susah tu pandangan orang keliling sebab kita ada suami."
"Pasti akak bahagia,"
"Entah N. Akak cuba belajar menyayangi suami akak. Kami pun belajar mengenali antara satu sama lain. Maklumlah pilihan keluarga sudah jodoh."
"Oh baguslah harap kekallah."
"Minta-minta macam tu lah. Tapi keje suami akak tak menentu siang atau malam. Ada waktu tak balik kita menunggu je dia," keluh Kak Syikin agak sugul.
"Yelah Kak perjalanan hidup suami isteri. Tak kahwin usia camni pun ada juga dugaannya. Macam N tengah ambil MCE ni. Dugaan juga kan," jawab N kekeh kecil.
"Yer dugaan belajar akak takat LCE jer tak mampu nak teruskan. Tu cukup usia 20 dikahwinkan."
"Sayang. Saya dulu macam tu tak mampu tapi saya ke sekolah juga. Cari duit sendiri. Sekarang orang tua dan adik-adik kat CH, saya tumpang rumah Pak Bakar. Nasib baik dia mahu dan benarkan saya tinggal kat rumah dia," jawab N.
"Akak ni macam bunga hiasan jer. Dipandang lawa, direnung cantik, megah dan indah, diusik jangan, disentuh usah," keluh Kak Syikin.
"Hmm akak memang lawa. Tak sangka akak sudah nikah. Silap-silap kena orat. N pun nak orat buat kekasih heheheh," puji N sambil meminum teh.
Kak Syikin ketawa. Teteknya bergegar.
"Pandai kau N. Kalau ko faham apa akak cakap tadi kau tahulah," jelas Kak Syikin.
"Sunyi, bosan rasa memiliki tetapi tidak. Ada sangkar tapi burung terbang jua.." balas N bersahaja.
"Bijak kau N" senyum pudar di wajah Kak Syikin.
"N ada kak. Boleh jadi teman," kata N ketawa, "N pun bosan juga. Tak kan nak belajar ajer. Sekali sekala nak ada kawan perempuan juga tapi akak tak boleh lah sebab ada suami."
"Boleh takat berkawan. Apa salahnya. Kita bukan jauh sangat beza usia. Bila suami akak ada akak layan dia. Bila dia takde, kita free pula ada masa, kita boleh bual dan berkawan," tambah Kak Syikin ketawa.
"Macam sekarang ni.. Ye kak?"
"Ye.. Kalau kau tak datang dengan sape akak nak bual? Tak bosan jadinya?" soal Kak Syikin sendirian.
"Akak ni macam tak happy je? Suami akak tak selalu ke sama dengan akak? Atau dia mempunyai wanita lain dalam hidupnya?" Tanya N berani.
"Payah nak cakap N. Mungkin dia ada kekasih sebelum nikah dengan akak. Kami berdua menjadi mangsa keluarga sendiri. Walaupun serumah kami selalu tak bersama," jawab Kak Syikin.
"Suami akak macam tak bersunguh-sungguh nak bersama. Ala kadar ajer untuk diri dia. Hak kita sering tertinggal," Kak Syikin berasa sedikit kesal.
"Sayang kak, bunga sekuntum bugar di tangan. Dipandang sakit mata diusik sakit hati. Ada cangkir berair tidak, ada perigi dibiar kering," jawab N.
"Pandai kau bermadah dalam maknanya," balas Kak Syikin yang tertarik dengan anak muda di depannya.
Gagah juga fikir Kak Syikin. Tinggi N dari suaminya. Kemas segak anak muda di depannya. Berdebar juga hati kecilnya. Bergetar rasa cipapnya.
Dan pagi yang sunyi itu. Kak Syikin mengulangi malam pertamanya bersama N dalam biliknya di rumah sewa Pak Bakar. Kak Syikin menjulur lidahnya. Mulut N menyambut lalu mengulumnya. Mereka bermain lidah sambil telapak tangan N meramas manja buah dada, mengentel-gentel puting dan menjilat kawasan itu lembut dan mulus.
N melihat sebatang tubuh yang paling indah. Buah dada yang segengam, keras kencang, puting kemerah-merahan kecil keras, perut yang kempis ke dalam, cipap yang tembam berbulu halus dengan alur merekah merah jambu, peha yang bersih, telapak kaki kecil dengan tumit yang bersih.
Desah, resah, rintih, erang, racau, keruh Kak Syikin silih berganti bertukar bercampur baur keluar dari mulut kecilnya bila jilatan N bergerak dari buah dada, ke perut ke pusat ke pangkal tundun dan kini dengan kangkangan terbuka luas N menyembamkan mukanya ke cipap Kak Syikin.
"Oh.. Oh.. Oh N.. Sedap. Bahagia akak.." rintih Kak Syikin bila N mula menjilat dan mengulum kelentit Kak Syikin.
Dia memainkan kelentit merah jambu itu yang keras menegang. Aroma puki Kak Syikin menikam resah syahwat N. Bontot Kak Syikin ternaik-naik ke muka dan mulut N.
N menjilat lurah merah jingga yang basah berair. Cipap Kak Syikin kebanjiran. N menyedut-nyedut lubang puki Kak Syikin membuatkan Kak Syikin merintih, mengerang, menahan gelinjang tubuhnya, mengejangkan tubuhnya, mengepit muka N dengan pehanya, menahan nikmat teramat sangat.
N memainkan lidahnya keluar masuk di lubang puki Kak Syikin kemudian bersedia menyedut semua air jus lendir di lubang cipap Kak Syikin membuatkan dia menjerit-jerit tak keruan dengan tubuhnya memulas kiri dan kanan serta mengejangkan tubuhnya.
"UU hah.. Uuu.. Hhaa.. Uuu.. Hah.. Arghh.. N.. Telalu sedap.. Telalu manis.. Urghh.. Gelii.. Akak lemass," rintih Kak Syikin dengan sesak dan besar nafasnya.
Sekali sekala terasa tenggoroknya tersekat-sekat. Sambil menghinggut-hinggutkan bunutnya. N memegang pinggul Kak Syikin mengigitnya. Sambil Kak Syikin memegang batang N.
"Ooo N.. Apa ni? Besarnya. Panjang lagi. Keras kote kau N. Boleh ke masuk lubang akak ni?" Kak Syikin terkejut tapi memegang batang N dan meramas-ramasnya geram.
Dia tidak dapat mengawal rasa syahwat yang telah membakar dirinya. Perlakuan N membuatkan dia lemas dan terangsang habis.
"N.. Oooo.. N.. Gelii akak keluar," N melekapkan mulutnya di lubang faraj Kak Syikin lalu menyedut jus yang keluar.
"Iii.. Eiieeiiee.. Urghh.. Sedappnya.."jerit Kak Syikin dengan nafasnya sesak.
Kini N mengambil nafas lalau berkata manja dan mencium bibir Kak Syikin..
"Kak.. N masukkan ye," secepat kilat N meletakkan kepala Kotenya ke lubang faraj Kak Syikin lalu menekan.
"Aduhh.. Aduhh.." desah Kak Syikin mengecilkan lubang lalu N membuka luas kankangan peha Kak Syukin, dia menjilat jari jemari kaki, menjilat telapak kaki, menjilat dan menghisap tumit Kak Syikin.
Kak Syikin merasakan seluruh tubuhnya kegelian dan menambahkan kesedapan syahwatnya. Dia membayangkan bagaimana lubang pukinya aakn menerima kehadiran lelaki N di dalam wanitanya.
Sambil menjilat telapak kaki N menekan kontlnya dan kotenya menembus masuk sekerat dan N mula menghenjut perlahan dan kepala batangnya merasakan ada halangan lubang cipap Kak Syikin. Bila dinding cipap dengan bantuan air lendir dalam lubang puki itu beradun dengan batang N, mrengizinkan N menekan batangnya menembusi halangan itu dan Kak Syiklin pasrah, fana, menjerit kuat dan mengoingoi seperti menangis.
"Ooo N.. Sedap.. Besar sendat rasa puki akak.. Sedapp N," Kak Syikin mengepit pinggang N yang sedang memnujah.
Sambil Kak Syikin mengoyangkan pinggulnya. N mula menujah. Dia menghenjut kuat dan laju. Hentakannya itu diterima layan oleh Kak Syikin sambil menjerit-jerit dengan tubuhnya mengelinjang keras.
"Noo.. N.. Ooo.. Ooo N.. Akak geli habis nii.. Akak keluarr lagii.. Urghh.. Urhh.. Arghh.." jerit Kak Syikin mengejangkan tubuhnya dan mengigit-gigit dada N sambil meaduh kesedapan.
N meneruskan tujahannya dengan laju dan kuat. Lubang cipap Kak Syikin dapat menerima seluruh batang batang N yang keras, besar dan panjang itu. Kak Syikin tercungap-cunggap kelayuan dengan peluh membasahi tubuh mereka berdua.
"Kalah malam pertama akak N. Kau hebatt.. Akak suka kau," kata Kak Syikin mencium pipi N dan mereka berkucupan panjang.
Dan N bersama Kak Syikin terus mengongkek sehingga petan
kisah 29
Aku adalah seorang staff di dalam sebuah syarikat swasta yang kecil. Bekerja bahagian admin. Umur dalam 40an. Bertubuh gempal, buah dada bersaiz sederhana tetapi dadaku agak bidang dan berpunggung yang lebar dan besar. Ya, memang punggung aku besar dan itulah sasaran
kegemaran suami aku. Dia gemar membuat doggie style tetapi yang menghampakan dia selalu pancut dulu kerana terlalu bernafsu dengan punggung aku. Suami ku berpangkat besar dan selalu keluar negara urusan perniagaan syarikatnya. Aku selalu kehausan. Kadangkala aku
gemar memainkan cipap ku dengan jari, walau pun ketika itu aku berada di dalam pejabat. Hinggalah pada satu hari segala hidup aku mula berubah.
Pada hari itu aku hanya berbaju kurung satin silk putih yang licin dan agak jarang sedikit dan bertudung satin kuning. Aku masuk ke bilik fail dan aku terserempak dengan Aziz, pegawai kewangan tempat aku bekerja. Dia juga sedang mencari fail. Aku menyapanya dan dia
kelihatan tersipu-sipu malu sambil tangannya masih terus membelek- belek fail yang berisi dokumen. Memang bilik fail itu agak sempit dan terdapat banyak rak yang tinggi berisi fail dokumen syarikat berbagai jabatan. Jarak antara rak memang rapat. Jika berselisih
pasti terpaksa berhimpit. Kebetulan, fail yang aku perlu dapatkan terletak bersebelahan dengan rak yang menyimpan fail yang sedang dibelek oleh Aziz. Bermakna aku terpaksa berhimpit dengan Aziz. Aku menyatakan kepada Aziz bahawa aku hendak lalu dan dia mengundurkan
badannya hingga belakang tubuhnya rapat dengan rak dibelakangnya. kemudian aku terpaksa membelakanginya dan berjalan mengiring ke arah ak yang aku tuju. Ketika aku melintasi Aziz, aku dapat rasakan sesuatu yang menarik di saat belakang tubuhku bergeser rapat dengan
tubuh Aziz. Aku merasakan bonjolan yang agak keras bergeser dengan tubuhku dan aku tahu ia adalah kemaluan Aziz. Nampaknya Aziz berahi kepada aku rupanya, patutlah setiap kali aku tegur dia kelihatan malu-malu. Tak sangka ada juga lelaki yang berahi dengan aku selain
suami aku, maklumlah aku dah semakin tua. Body dah kurang shape, perut makin buncit, lemak makin banyak dan bontot makin besar. Umur ziz masih muda, baru 25 tahun, pemegang ijazah perakaunan. Dia baru 1 tahun setengah bekerja. Orangnya hensem dan masih bujang. Badannya
tidak terlalu kurus dan tidak terlalu berisi. Sederhana.
Selepas aku mendapatkan fail yang aku nak, aku ingin kembali kepejabat dan aku sekali lagi terpaksa bergesel dengan Aziz. Ketika aku melintasi tubuhnya aku dapat rasakan sekali lagi bonjolan yang semakin keras dari tadi menyentuh tubuhku dengan rapat. Sengaja aku
melambat-lambatkan pergerakan, sengaja aku nak rasa kekerasan kontolnya. Tiba-tiba aku rasakan Aziz semakin menghimpit dan menekan kontolnya. Aku serta merta berhenti akibat desakan nafsu aku sendiri yang dah mula bangkit. Aku tolak badanku kebelakang supaya
aku dapat merasakan kekerasan kontolnya lebih rapat ke tubuhku. Aku dapat rasakan hembusan nafas Aziz yang semakin laju dan aku tahu, dia sedang bernafsu. Tiba-tiba aku rasakan Aziz merendahkan badannya dan aku tahu dia hendak meletakkan kontolnya di celah-celah punggungku kerana aku agak rendah berbanding dia. Memang tepat sangkaan aku. Aziz meletakkan bonjolan kontolnya di celah-celah punggungku dan tangannya dengan berani memegang pinggangku dan menarik pinggangku supaya lebih rapat kepadanya. Nafsu aku semakin angkit. Aku lentikkan tubuhku dan aku geselkan kontol Aziz dengan celah bontotku turun naik. Aku juga ingiin lihat apa tindakan seterus darinya. Aziz semakin berani, dia memeluk tubuhku dan mencium leherku yang berbalut tudung. Aku membiarkan kerana aku
merasakan ianya benar-benar membangkitkan nafsuku. Kemudian Aziz menarik kembali tangannya dan dia menjarakkan tubuhnya dariku, aku tidak tahu apa yang dia buat dibelakangku. Kemudian dia kembali merapatkan tubuhnya dan kali ini bonjolannya lain dan tidak seperti tadi. Aku capai kontolnya yang bergesal dengan celah punggung aku dan baru aku tahu bahawa dia telahpun mengeluarkan kontolnya dari celah zip seluarnya yang dibuka. Aku pegang dan usap-usap kontolnya. Agak keras dan panjang. Aku rasa saiznya hampir sama dengan kepunyaan suamiku Cuma mungkin Aziz punya agak kecil sedikit. Aku masih lagi membelakangi Aziz dan tidak nampak rupa sebenar kontolnya. Aku cuma agak-agak saja. Aku lancapkan kontol Aziz yang tegang gila tu. Kemudian aku selitkan kontolnya di celah
pungguungku. Aziz mendengus kesedapan bila kontolnya digeselkan di belahan bontot ku yang berbalut kain satin silk itu. Aziz meraba- raba belakang badanku dan mengusap-usap pinggangku. Kemudian aku dapat merasakan Aziz menyelak kainku keatas dan menyembunyikan kontolnya yang bergesel dengan bontotku yang disalut seluar dalam
didalam kainku.
Tangannya kini bermain-main di celah kelengkangku dan berdecit-decit bunyi lucah keluar dari seluar dalamku yang sudah terlalu basah itu. Aziz semakin merendahkan tubuhnya dan kini dia meletakkan kontolnya di bawah cipapku dan digesel-geselkan dengan berahi sekali. Aku
masih lagi diam dan membiarkan tindakannya itu kerana ianya membuatkan aku benar-benar bernafsu. Aziz kemudian menyelak seluar dalam ku di bahagian kelengkang dan aku rasakan Aziz ingin pergi lebih jauh. Serta merta aku rasakan Aziz dengan perlahan-lahan menekan kepala kontolnya memasuki lubuk nafsu aku. Sedikit demi sedikit aku merasakan kehangatan kontolnya hingga keseluruhan kontolnya berjaya memasuki lubang nikmatku dengan mudah kerana cairan cipapku dan kerana lubangku yang agak besar.
Aziz meneruskan aksinya dengan menyorong tarik kontolnya didalam cipapku dari belakang. Aku merelakan dengan sepenuh hati. Aku ingin dipuaskan. Kami melakukannya dengan senyap danhanya dengusan nafas kami yang kedengaran. Tiba-tiba Aziz menekan kontolnya sedalam-
dalamnya sehingga aku senak kenikmatan. Aku dapat merasakan berdas- das cairan air mani Aziz yang hangat memenuhi lubang cipapku. Aku hampa kerana rupanya dia juga tidak dapat bertahan lama. Tetapi sangkaan aku meleset, selepas dia habis dia memancutkan air maninya
di dalam cipapku, dia tidak mengeluarkan kontolnya, tetapi dia meneruskan menghenjut aku dari belakang. Aku gembira kerana kontolnya masih tegang dan dia masih bernafsu. Lantas aku lentikkan tubuhku dan aku tonggekkan tubuhku supaya nafsu Aziz semakin galak.
Aku dapat rasakan ada sesuatu meleleh di pehaku dan aku tahu itu adalah air mani Aziz yang dipancutkan tadi bersama cairan cipapku meleleh keluar dari belahan cipapku yang sedang enak dibedal Aziz. Aku benar-benar hanyut, aku tidak tahu sudah berapa lama aku berada dalam keadaan begitu. Nafsuku benar-benar ingin meletup. Merasakan kontol Aziz keluar masuk di cipapku yang sudah terlalu licin itu benar-benar membuatku terasa seperti ingin sahaja aku menjerit dan meluahkan kenikmatan itu. Aku benar-benar nikmat diperlakukan seperti anjing oleh Aziz. Aziz membedal cipapku dari belakang dengan hanya menyelak kainku ke atas.
Seketika kemudian aku terasa cipapku semakin mengecut dan nafsuku semakin hilang kawalan. Aku semakin mengemut kontol Aziz dan dia semakin galak menyorong tarik. Akhirnya aku klimaks dan aku menolak punggungku lebih rapat kepada Aziz dan ini membuatkan kontolnya yang aku kemut itu semakin tenggelam sedalam-dalamnya. Aku menggigil menahan kekejangan dan Aziz memelukku dari belakang dengan erat. Aziz berhenti seketika dengan kontolnya yang masih keras tegang itu masih didalam cipapku yang kemutannya semakin lemah. Kemudian Aziz melepaskan pelukannya dan dia kembali memegang pinggangku dan dia mula menyorong tarik kontolnya, kali ini temponya semakin laju. Aku semakin melentikkan tubuhku supaya dia semakin bernafsu. Dan akhirnya Aziz menekan kontolnya sedalam-dalamnya dan sekali lagi dia
memancutkan air maninya. Cuma kali ini aku rasakan ianya tidak sebanyak yang mula-mula tadi.
Aziz membiarkan kontolnya didalam cipapku dengan agak lama. Kemudian dia memelukku dengan erat dan dia merapatkan mulutnya di telingaku lalu dia membisikkan sesuatu.
"Kak Eton, selepas ini, kalau Kak Eton inginkannya lagi, saya sudi temankan Kak Eton."
"Ok." Jawabku
Kemudian Aziz mengeluarkan kontolnya dari cipapku dan dia membetulkan kedudukan seluar dalam dan kainku yang diselaknya tadi. Aku kemudian beralih ke tepi dan aku lihat rupa sebenar kontol Aziz. Kontolnya semakin layu dan mengecil. Kemudian dia menyimpan
kontolnya yang masih disalut lendir itu kedalam seluarnya. Selesai kemudian dia hampir kepadaku dan dia peluk aku dengan erat. Kemudian dia mengucup dahiku dan memberitahuku bahawa dia sudah lama mengidamkan air maninya bersemadi didalam perutku. Kemudian aku
memberitahunya bahawa aku sudah lama tidak merasakan klimaks dan apa yang diberikan kepadaku itu benar-benar memberikan kepuasan dalam hidupku.
kisah 28
Kak Su, itulah nama kakak iparku. Berumur 33 tahun, belum mempunyai anak walaupun setelah berkahwin selama 10 tahun lebih. Namun wajahnya terlalu seksi bagi aku menatapnya. Bentuk badan agak menarik nafsuku, berkulit putih, berbeza dengan bini aku yang agak gelap.
Mungkin kerana belum pernah melahirkan anak maka bentuk susuk tubuhnya masih kelihatan bergetah. Cuma teteknya agak jatuh sedikit je, yang pastinya dia perlu, mesti dan wajib menjadi korban nafsu ku untuk selamanya.
Setelah berkahwin lebih kurang setahun dengan bini aku, aku mula memasang perangkap, mengatur strategi, mencari segala macam maklumat dan cara untuk aku menguasai tubuh kakak iparku yang ku panggil kak Su ini.
Mula-mula aku ingat ingin gunakan cara halus atau bomoh untuk menguasai tubuh kak Su, namun bila ku bayangkan ianya tidak mendatangkan ghairah pada ku kerana aku mau dia melayan nafsuku dalam keadaan sedar, atau lebih senang paham sebagai hamba nafsu yang akan melakukan segala arahan dengan patuh.
Langkah pertama ku lakukan dengan membeli sebuah kamera digital Sony, hutang 5 bulan baru habis bayar. Setelah 5 bulan aku mulakan langkah kedua dengan mencari sejenis dadah yang mampu membuat seorang wanita merasa ghairah. Aku mendapatkan benda alah tu di Thailand.
Setelah menanti selama tiga tahun, sampailah di suatu hari, nasib menyebelahi aku. Ketika anak ketiga ku lahir, bini aku meminta tolong kak Su menjaga anak aku lagi dua orang kerana aku tak dapat cuti (alasan untuk bini aku agar aku ada peluang melaksanakan misi aku) Jadi kak Su pun berseteju. Lagipun kak Su memang rapat dengan anak aku.
So ketika hari bini aku dimasukkan wad, waktu tu malam, kebetulan aku memang telah menyelidik yang suami kak Su bekerja pada shift malam waktu itu. Lebih kurang dalam pukul 2 pagi aku datang ke rumah kak Su, sebelum tu aku telah menalipon dulu kak Su mengatakan untuk menghantar baju dan lampin anak aku. Sebenarnya aku boleh hantar awal, tapi kalu hantar awal line tak clear la kan, jadi aku cakap aku hantar lambat kerana ada urusan kerja dan aku akan menalifonnya dahulu.
Ketika aku sampai aku lihat kak Su memakai baju t-shirt dan kain batik. Fuhhh… entah kenapa aku cukup bernafsu bila aku tengok kak Su pakai kain batik, menampakkan punggungnya yang tonggek itu. Aku cakap dengan kak Su masa tu boleh tak aku nak tengok anak aku sekejap, rindu la.
Terus kak Su ke dapur untuk membuat air untukku. Ketika ku lihat dia sedang sibuk di dapur, aku pun mengambil kemera digital, tali yang telah siap bersama sebilah parang, lalu ku kunci pintu rumah kak Su. Lampu depan rumahnya ku tutup. Dalam samar-samar kegelapan aku lihat kak Su datang dengan segelas air ditangannya.
“La.. Hasan tutup lampu ke? Pintu kenapa tutup?” satu soalan bodoh dari kak Su tanpa mencurigai niat ku.
Ketika dia hendak membuka lampu dan pintu ketika itulah aku mengeluarkan parang yang ke bawa tadi, lalu terus aku memeluk pinggang kak Su sambil mengacukan parang tersebut ke leher kak Su.
“Diam!!!” Sekali je aku cakap, “patuh pada arahan aku kalau kau nak selamat, nasib ko,hidup kau sekarang berada dalam genggaman aku sekarang. Sepatah perkataan terkeluar dari mulut kau, aku toreh-toreh muka kau yang cantik ni dengan parang. PAHAM!!”
Terkejut beruk kak Su dengan tindakan aku yang tak diduga itu.
“Hasan, kenapa buat kakak macam ni? Hasan nak apa? Kak Su takut…” dengan perlahan dan lembut kak Su merayu dengan harapan aku tidak akan mengapakannya.
“Jangan takut kak Su. Straight to the point la, bermula malam ni kak Su akan menjadi hamba nafsu saya, melayan nafsu saya, seluruh tubuh kak Su mesti menjadi milik saya selagi mana saya perlu, rela atau tidak, paksa hati kak Su menerima segala yang akan berlaku. Kalau kak Su memberi kerjasama maka saya akan memberi kenikmatan pada kak Su sampai suami kak Su pun tak kan mampu berikan pada kak Su.”
Ku lihat matanya telah berair, mukanya kelihatan pucat kerana terkejut yang amat sangat.
“Tolong la jangan buat macam ni pada akak, dosa Hasan. Hasan kan dah ada Ina, kenapa nak buat akak macam ni?” kata kak Su memujuk lagi.
Namun pujukannya itu hanya membuatkan adik aku semakin mengganas, lalu ku geselkan adik aku tepat ke punggungnya sambil tangan kiri aku meramas buah dadanya yang bersaiz 32B itu. Dengan tangan kanan masih memegang parang, aku berkata, “jangan melawan, jangan bergerak, nikmati sahaja atau aku siksa kau!”
Serentak itu tangan kiri ku meramas tetek kak Su dari luar dengan kuat. Kak Su hampir menjerit namun dangan cepat ku halakan parang ku ke lehernya sambil menarik rambutnya lalu ku bentak dengan keras.
“DIAM!!!”
Termengah-mengah kak Su merasakan dirinya disiksa sedemikian rupa. Wajahnya yang kelihatan amat sangat dalam ketakutan membuatkan nafsu setanku semakin memuncak, lalu ku ikat tangannya dengan tali yang ku bawa.
Kini kak Su duduk besimpul mengadap aku yang berdiri dihadapannya dengan parang yang masih berada di tanganku. Ku letakkan parangku ke atas meja lalu ku buka seluar jeans aku dihadapanya, maka terkeluarlah panglima aku dengan gagah berkilat. Ku lihat kak Su memejam mata sambil menangis teresak-esak. Ku lihat dadanya bergoyang-goyang dek kerana esakannya.
“KULUM…”
Tekejut lagi dia.
“Jangan la macam ni Hasan ,tolong la kak Su,” rengeknya.
Tanpa berlengah ku ambil kembali parang ku dan ku letakkan di lehernya.
“KULUM!” Sekali lagi ku beri arahan.
Aku halakan batangku ke mulutnya dan kak Su pun mula memberi ruang untuk adik aku menceroboh masuk. Sampai je ke bahagian takuk adik aku aku biarkan sahaja konekku di situ.
“Hisap. Keluarkan air liur kak Su biar sampai menjejeh ke bawah.”
Dengan patuh kak Su menurut dan…
“Ahhhhhh… sedapnya.”
Agak lama juga ku biarkan adik aku menyelam setakat takuk je, sambil tangan aku menyelak bajunya dari belakang dan membuka hook branya yang berwarna hitam, lalu ku gentelkan putingnya kanan kiri. Ku rasakan kulumannya semakin dalam dan semakin rancak. Dia dah stim kot.
Tiba-tiba ku pegang kepalanya lalu ku tekan konekku hingga ke pangkalnya, ku lehat mukanya merah padam dan air matanya meleleh-leleh. Bila ku tarik sahaja konek ku terus termuntah kak Su dengan agak banyak. Termengah-mengah ku lihat mangsa ku hari ni.
Tanpa berlengah terus ku baringkan dia di atas sofa lalu ku nyonyot putingnya sambil ku ramas-ramas dengan penuh ghairah. Sesekali ku gigit-gigit manja putingnya. Ku lihat kak Su hanya mengeliatkan badannya macam cacing kepanasan.
Ku buka kain batiknya lalu ku buang ke tepi, bajunya juga ku buka dan branya ku rentap dengan ganas. Pantiesnya juga ku rentap hingga terkoyak, seketika ku terpegun melihat tubuh bogel dihadapanku yang menjadi idaman ku sekian lama.
Tanpa dapat dibendung perasaan ku lagi aku terus menjilat cipapnya yang berbau agak harum kerana aku sendiri harus akur kak Su amat mementingkan kebersihan. Aku sedut-sedit kelentitnya.
“Arhhhhghhh… Hasan, to..tolong jangan kat situ.. arghhh…” Terangkat-angkat bontotnya ku lihat membuatkan aku semakin ghairah menyedut dan menjilat pantatnya.
Tak lama kemudian dengan satu erangan panjang dari kak Su. Aku rasakan air pantatnya memancut dengan banyak sekali. Habis semuanya ku sedut.
“Sedap tak sayang?”
Kak Su hanya diam sambil memalingkan mukanya ke kanan dengan esakan tanpa henti dari mulutnya. Aku kulum lidahnya perlahan-lahan, lalu ku tekan konek ku ke alam lubang pantat kak Su. Bagaikan tersedar kak Su cuba meronta sambil memohon belas.
“Tolong la Hasan, akak dah hisap tadi, jangan buat akak macam ni,” bersungguh-sungguh kak Su merayu tanpa henti.
Aku tenung mukanya sambil bekata, “nak sedap ke nak seksa?”
Srentak itu terus ku benamkan kote ku ini sedalam yang boleh.
“Arrghhhh…” serentak itu aku letakkan kedua tanganku ke teteknya kanan kiri sambil ku ramas sekuat hati aku. Geram sungguh aku.
“Tolong, Hasan, akak janji akak akan bagi….”
Satu penyerahan mutlak yang ku dengar darinya. Tanpa berlengah ku buka ikatan tangannya terus aku benamkan muka ku ke kedua belah teteknya sambil ku henjut semau hati ku hingga lebih kurang 20 minti baru ku tembak berdas-das air maniku ke dalam rahimnya.
“Aarrrghhh… argh… sedapnya kak Su, kemut sayang..”
Setelah hampir 5 minit ku terkapar lesu diatasnya, terus ku bisikkan padanya, “segala perbuatan kita malam ini telah aku rekod, ingat ye sayang, bila-bila aku perlukan tubuh kau, jangan banyak bunyi, bagi je walaupun 10 kali sehari…”
kisah 27
Sebagai permulaan babak pertama ini elok juga kalau kita berkenalan sedikit sebanyak dengan watak utama (akulah tu). Aku seorang lelaki tulen, penuh kelembutan, agak kacak (bukan aku cakap tapi makwe-makwe aku yang cakap), tinggi, ahli sukan dan orang penting di organisasi tempat aku bertugas. Tidak lupa nak beritahu dah kahwin, anak macam gerabak LRT sebab isteri lebih dari satu (pasal tu aku jarang merayap jadi kutu embun) dan selalu bertugas di luar negara. Tapi pada isteri-isteri dan makwe-makwe pembaca, jangan bimbang aku tidak tibai pompuan bila di sana pasal lubang bini-bini aku tu semuanya masih ketat lagi walaupun dah beranak-pinak (dengan izin tuhan berkat ilmu Siti Fatimah peninggalan nenek). Kalau ada wanita yang berminat dengan ilmu ini nanti pelan-pelan boleh cari aku.
Aku dibesarkan bersama datuk dan nenek sejak kecil, sebab itu agaknya aku ni manja orangnya (mudah juga merajuk). Aku saja cucunya yang dipelihara walaupun cucu-cucu yang lain ramai. Sejak kecil agaknya umur lima atau enam tahun aku dah lali dengan cipap perempuan (sebab nenek aku ni bidan part time) sementara menantikan bidan sebenar sampai dia yang kena buat dan akulah orang kanan yang membantunya. Malah aku masih boleh kerat pusat bayi dengan hanya pakai sembilu buluh (pisau dulu-dulu) dan qualified untuk menyunatkan budak-budak pompuan (budak jantan tak reti). Jadi membesarlah aku dalam keluarga datukku itu seramai empat orang termasuk mak saudaraku anak dara pingitan yang come lote. Jangan salah faham bukan kisah mak saudara aku yang hendak aku ceritakan (dia baik dan bahagia bersama familynya).
Kalau dia orang mandi (mak saudara dan seorang lagi sepupu) aku jadi tukang escort dia orang (dulu-dulu mandi di telaga). Selalu juga aku ternampak bentuk tubuh dia orang bila kain mandi dia orang basah dan kadang-kadang tu masa nak salin kain dia orang londeh semua sekali telanjang bulat (maklumlah dia orang anggap aku budak kecik) menampakkan kulit yang putih melepak cuma cipap sahaja yang berbulu. Sepupu aku masa tu masih muda benar, kalau tak salah aku baru lima belas atau enam belas tahun umurnya. Bulu cipapnya juga masih nipis tapi tundun dia fulamak punyalah tembam. Mak saudara aku punya pulak agak sederhana tembam sebab susuk badannya macam Julia Robert.
Satu hari seperti biasa aku ikut dia orang membasuh dan mandi umur aku masa ni dah nak masuk 11 tahun. Kemudian mak saudara aku tergesa-gesa balik sebab nenek aku bising-bising entah pasal apa (tak ingat lagi). Tapi sebelum beredar dia berpesan kepada sepupuku supaya memandikan aku kerana dia tak sempat. Dalam bilik perigi tu tinggal aku berdua sahaja, kami mandi bersama dia pakai baldi ayan dan aku pakai timba upeh. Dia sabunkan aku (aku telanjang macam selalu) tapi tiada apa-apa kelainan yang aku rasa agaknya pasai dah biasa tengok dia orang. Kemudian dia tanggalkan kain basahannya untuk bersalin tetapi sebelum itu dia duduk mencangkung lalu kencing. First time aku lihat perempuan dah anak dara kencing. Aku nampak jelas cipapnya terbuka dan air kencing berlari laju?.tiba-tiba kote aku naik tegang aku rasa cukup keras. Aku malu sendiri tapi tak tahu nak buat macam mana. Sepupu aku terpandang kote aku dan dia juga agak terkejut kerana selalunya kalau aku nampak cipap dia orangpun tak pernah kote aku keras begitu.
Dia menghampiriku lalu bertanya kenapa kote aku keras, aku jawab tak tahu tapi tadi aku nampak cipap dia tengah kencing boleh jadi itu sebabnya. Dia datang hampir lalu memegang kote aku, tengah dia membelek-belek tu critt?ada air yang terpancut keluar lalu kena kat mukanya tapi tak salah aku air tu belum pekat lagi dan masih cair. Dia cuma tersenyum lalu mengesat mukanya sambil berkata mulai hari ini aku tak boleh mandi bersama dia orang lagi kerana kote aku dah naik tegang bila nampak cipap perempuan dan aku kena mandi sorang-sorang katanya lagi. Frust juga aku tapi katanya lagi kalau aku nak tengok dia mandi boleh dengan syarat aku beri dia main dengan kote aku. Aku tamatkan episod mukadimah ini bimbang engkau orang boring cuma aku nak tegaskan dalam usia semuda itu kote aku dah keras dan mampu memancutkan air mani walaupun belum betul-betul pekat.
Aku melangkahkan kaki ke sekolah menengah dengan perasaan sama seperti budak-budak lain untuk maju dalam pelajaran. Tapi di sekolah aku selalu kena buli sebab kata dia orang muka aku ni macam perempuan (aku merawarisi paras mak saudaraku yang cun melecun tu) jadi tak heranlah kalau dia orang ingat aku macam perempuan, apa yang dia orang tak tahu kote aku kat celah peha ni dah boleh rabakkan cipap anak dara kalu diberi peluang. Oh ya lupa nak beritahu, mak saudara aku tu sebenarnya cikgu kat SM tu, guru muda lepasan Kirkby cakap orang putih jangan cerita le?berabuk kalah mek saleh aku ingat. Akupun baiklah dengan cikgu-cikgu di sekolah tu sebab mak saudaraku itu tambahan pula dengan rakan-rakan cikgu wanita lagilah dia orang suka aku ni cute kata dia orang, patutnya jadi budak pompuan bukan lelaki.
Dalam ramai-ramai tu ada seorang guru SRT, dia ni dah berumur sikit aku ingat awal tiga puluhan. Rumah dia sebelah sekolah sahaja jadi tempat lepak guru-guru wanita terutama yang bujang atau yang suaminya tiada (masa tu ramai juga guru wanita yang suami mereka sambung belajar di London. Cikgu Saridah (bukan nama sebenar) sangat baik orangnya, pandai masak, bergaya, lawa, bontot menggiurkan tapi jarang senyum. Walaupun dah berumur masih cantik dan single. Mak saudaraku cakap dia tu dah kahwin tapi entahlah aku tak faham cakap dia orang. Aku selalu juga lepak-lepak kat rumah dia kerana aku di sesi petang dan kebanyakan mereka mengajar di sesi pagi. Selalunya rumah dia kosong tak ada orang.
Satu hari Cikgu Saridah memanggil aku lalu menyuruh aku menantinya di bilik SRT, bila dia nampak aku kat situ dia menghulurkan aku sepiring karipap yang sungguh sedap rasanya. Dia cakap kat aku kuih tu sebenarnya budak-budak tengah ambil peperiksaan jadi dia simpan sikit untuk aku. Kemudian katanya kalau aku tak buat apa-apa Sabtu dan Ahad nanti dia hendak aku datang ke rumahnya tolong dia mengecat dinding bahagian dalam rumahnya. Cat dan perkakasannya telahpun dibeli pagi tadi. Aku kata nanti aku beritahu jawapannya selepas mendapatkan consent mak saudaraku.
Anywhere, Sabtu sampai dan aku juga sampai ke rumahnya. Aku dapati dia sorang sahaja kat rumah aku tanya mana yang lain-lain. Dia jawab kena jaga periksa dan terus balik kampung kemudian dia tanya mana mak saudaraku, aku jawab nanti lepas zuhur baru dia sampai. Dia menghulurkan baju lama (nampak macam blouse) dan kain batek lusuh kepadaku, aku kata nak buat apa lalu dia jawab nak mengecat kenalah pakai yang buruk lepas kena cat boleh buang terus. Akupun menyalin pakaian berkenaan dan memulakan kerja-kerja mengecat. Banyak juga yang dapat aku cat sehingga sampai waktu makan tengahari aku disuruhnya berhenti pergi mandi dan makan.
Aku mengambil tuala yang diberikannya lalu masuk ke bilik mandi, sebentar kemudian aku keluar untuk menyalin pakaian. Tiba-tiba dia ketawa aku kaget, dia cakap aku mandi macam mana, cat kapur tu masih bertepek kat kepala. Lalu dia menarik tanganku masuk semula ke bilik mandi dia suruh aku duduk telanjang dan dibersihkan segalan cat kapur yang terlekat di kepalaku. Sambil tu dia beritahu yang dia tahu aku selalu dimandikan oleh mak saudaruku aku jawab benar malah semua tentang diriku dia yang uruskan. Setelah selesai aku berdiri sambail dilapkan badan oleh cikgu Saridah.
Tanpa sengaja tangannya tersentuh koteku lalu ia mula mengembang dan mengeras, cikgu Saridah nampak tapi buat-buat tak tahu sahaja. Setelah selesai aku nak keluar dari bilik mandi tapi kote masih keras lagi lalu dia tanya kalau kote aku naik tegang selalu aku buat macam mana. Aku jawab aku biar sahaja lama-lama dia turun balik atau kalau sepupu aku ada kat rumahnya aku suruh dia pegang dan usap-usap tak lama nanti ada air keluar lepas tu boleh turun. Dia senyum saja. Cikgu Saridah suruh aku bersalin pakaian di biliknya selepas tu boleh makan nasi dan aku menurut sahaja. Tanpa ku duga dia mengekori aku ke biliknya, sebaik sampai tuala yang ku pakai direntapnya dan koteku diramas-ramas mesra. Aku terkedu menahan rasa terkejut dan sedap yang mula menyelinap ke tubuhku.
Dia suruh aku berbaring atas tilam sambil dia menanggalkan pakaiannya satu persatu. Cuma tinggal bra dan panties sahaja, dia datang hampir kepadaku lalu berkata yang ni nak lucut tak sambil jarinya menunjuk kepada bra dan pantiesnya aku cuma menganggukkan kepala. Jari-jarinya membuka cangkuk bra dan melepaskannya ke lantai?.tersembul dua bukit indah milik cikgu Saridah, walaupun tak begitu besar tapi padan dengan dirinya. Tetek cikgu Saridah masih mengkar tak jatuh macam orang lain yang dah berumur?masih terpacak di dadanya. Kote aku berdenyut-denyut menahan rasa berahi?dan yang ni awak kena bukak sendiri kalau nak tengok dia memberi isyarat kepada pantiesnya.
Perlahan-perlahan akan memegang tepi seluar dalam tu lalu melorotkannya ke bawah melepasi punggungnya dan menampakkan bulu pantatnya yang lebat tapi kemas. Kemudian dia sendiri melucutkan terus panties berkenaan melambak ke lantai. Nampak jelas cipap cikgu Saridah yang begitu tembam, berbulu hitam lebat, labia majoranya bagai ulas limau penuh menutupi labia minoranya. Cikgu Saridah merebahkan dirinya atas tilam lalu meminta aku menatap sepuas-puasnya tubuhnya. Dia mahu aku menyentuh apa sahaja yang terdapat pada tubuhnya, aku memegang, mengusap dan menguli teteknya dengan putingnya tegak berdiri, aku terus meraba seluruh perut, pusat, ari-ari lalu sampai ke cipapnya. Aku tertagak-tagak untuk menyelak bulu-bulu cikgu Saridah sebab bulu cipap mak saudaraku agak nipis berbanding dengan cikgu Saridah.
Lalu jari-jarinya menyelak bulu hitam itu dan kelihatan biji kelentit di bahagian atas cipapnya, dia mahu aku menguis-guis dan mengulit biji berkenaan dengan jariku dan seterusnya meraba-raba keseluruhan cipapnya yang tembam tu. Sambil tu tangannya terus meramas koteku dan?iba-tiba sahaja dia bangun duduk dab mulutnya terus mengulum koteku. Aku mengeliat kegelian dan kesedapan, kali pertama kena kulum aku rasa nak terpancut tapi cikgu Saridah mengemam kepala koteku dengan bibirnya hingga hilang rasa nak terpancut tu. Dia meminta aku mencium dan menjilat cipapnya, aku ragu-ragu sebab tak biasa tapi akhirnya aku akur juga. Aku lihat cipap cikgu Saridah dah berair aku kuak bulunya lalu mula menyonyot biji kelentitnya, aku lihat dia terangkat-angkat badannya bila kelentitnya aku sedut, aku dah tak kisah lagi aku sedut puas-puas kelentitnya dan bibir cipapnya lalu aku bukak cipapnya dengan jariku ku lihat bahagian dalamnya berwarna pink dan masih rapat. Aku menjolok jariku masuk ke lubung cipap yang aku kira bukan dara lagi kerana nampak jelas lubangnya lebih besar sikit berbanding lubang sepupuku yang masih perawan?tapi cikgu Saridah belum beranak lagi dan kehangatan lubang cipapnya terasa pada jariku.
Dia lantas menolak badanku naik ke atas tubuhnya dan membawa koteku betul-betul bertentangan dengan cipapnya. Koteku digesel-geselkan pada cipapnya dan kemudian meletakkan kepala koteku pada lubang cipapnya. Dia meminta aku menolak masuk, aku ragu-ragu lalu dipautnya punggungku?clupp terus masuk sampai habis (maklumlah masa tu kote akupun bukanlah sebesar dan sepanjang la ni) jadi senang saja masuk. Secara spontan aku melakukan sorong tarik berdecup-decap ia keluar masuk. Aku kira bab ni tak payah ajar naluri manusia ia tahu sendiri apa nak buat seterusnya. Cikgu Saridah mengajarkan berbagai cara bersetubuh baring, duduk, menungging, meniarap, mengiring, mengatas, membawah tapi yang paling sedap bila dia merapatkan lurus kakinya di mana lubang pantat menjadi begitu ketat dengan kote rasa tersepit (buat para isteri kalau belum pernah buat, cuba main cara ini aku jamin mata suami awak boleh juling jadinya). Setiap kali aku menarik nafas untuk terpancut dia akan menyepit kote aku dengan kuat dan rasa ngilu nak terpancut tu akan reda jadi aku dapat meneruskan dayungan keluar masuk. Aku tak pasti dah berapa lama aku main sampai peluh kami dah menyimbah keluar membasahi cadar (kami pakai cadar tapi ada kes aku dengar pakai tilam bolen aje ?betul ke tidak waulah waalam).
Cikgu Saridah dah tak keruan lagi?mulutnya menceceh sedap-sedap, nak lagi, tekan habis, aku menghentak sekuat yang termampu?.tak lama lepas tu aku dengar dia menyebut I'm cuming?'m cuming?lalu pinggangku dikepit badanku dipeluk kuat dan koteku terasa disedut-sedut. Dia menggelepar dan mendengus dengan kuat dan barulah aku tahu itu rupanya bila pompuan klimak. Aku melajukan hentakan dan akhirnya badanku menjadi kaku lalu memancutkan sesuatu ke dalam pantat cikgu Saridah. Pancutan kali ini agak lama berbanding selalunya dan aku terasa pedih dihujung koteku mungkin kali pertama memancutkan air mani ke dalam cipap perempuan. Cikgu Saridah tergolek puas, akupun puas dan selepas berehat seketika aku menarik keluar koteku yang aku kira habis lusuh dikerjakannya. Tapi awang tu nampak gagah lagi berkilat-kilat bekas air cipap yang melekat padanya. Cikgu Saridah menciumku sambil mengucapkan terima kasih.
Kami berdiri sambil berpelukan?untuk menuju ke bilik air tapi aku melihat seraut wajah yang biasa ku lihat aku cemas sambil memandang cikgu Saridah. Tiba-tiba ku lihat wajah tu tersenyum "well anywhere you are man, sooner or later you will be fucking around but make sure you keep your mouth shut" dan menyambung "Idah kau belasah anak sedaraku cukup-cukup" sambil tangannya memegang koteku?..cikgu Saridah hanya mampu tersenyum?mak saudaraku berbisik kepadaku, "You fucked that older woman pussy like nobody business, so you must return back the favour to me, young man". Aku hanya dapat mengatakan "Yes" dan tak tahu what's going to happen next?..
kali pertama main dengan cikgu, berasmara dengan cikgu wanita, tiba-tiba rasa keras, tiba-tiba dia menyelak pantatnya kepadaku, rasa biji kelentit cikgu perempuan, kelembutan cipap, cerita pantat lagi dara, cerita cikgu pantat basah, budak sekolah menengah 3gp, tundun masih dara ketat
kisah 26
Namaku Rosnah. Usiaku 28 tahun. Muda dan cun melecun tapi boleh kata lewat juga usiaku sebab belum menikah. Wajah dan bodyku mirip graduan AF-AF Zarina.
Pagi ini, aku datang opis macam biasa.. Aku tengok dinding opis aku.. Sejambak bunga ros yang telah kering, masih tergantung di situ.. Tapi bunga-bunga itu seakan sudah reput.. Akibat proses kereputan menyebabkan habuk-habuk halus jatuh ke meja aku.. Aku pandang lagi bunga ros itu..
Setahun lalu diberi oleh seseorang semasa hari kekasih hehe, bersama sekotak coklat. Coklatnya sudah habis aku makan.. Cuma tinggal bunganya sahaja yang tergantung kemas di dinding opis aku.. Aku ambil bunga ros itu.. Aku belek-belek.. Maaf, aku terpaksa membuangnya sebab sudah uzur sangat.. Bunga ros lama itu menyebabkan aku terpaksa membersihkan meja aku setiap pagi..
Kini dinding aku sudah lapang.. Tiada hiasan bunga ros lagi.. Hanya tinggal kad-kad ucapan dan sekuntum bunga ros plastik yang diberi opismate aku masa nak pindah dulu.. Ada sesaper nak kasi aku bunga lagi tak? Boleh aku gantungkan kat dinding opis aku.. Ingat-ingat baik pergi umah akakku.. Nabila,31tahun.. Cun melecun orangnya. Professionnya seorang guru.
Malam tadi aku tidur lewat juga dalam pukul dua pagi. Entah kenapa mood aku macam tak betul pula sekarang. Bosan teramat.. Dah lama aku tak rasa bosan begini huahuahua.. Kuang.. Kuang.. Kuang.
Minggu ni housemate aku dari satu kampung dengan aku ajak balik kampung, tapi aku baru balik kampung dua minggu lepas. Aku tak mahu jadi aku tak ikut balik sekali.. Sebab bosan teramat, apa nak buat ah.. Hehe akupun call akakku. Aku cakap nak datang rumah dia.. Rumah dia kat ttar, agak susah nak pergi sana kalau takde kenderaan.
Akak aku cakap dia akan amik aku kat umah.. Dia ada seminar sekolahnya dan suka aku datang rumah dia, boleh babysit anak dia kejap dan Abang ipar aku tak kemana-mana-mungkin golf kut.. Aku rapat dengan Abang ipar, Lagipun sudah lama tak bermain-main dengan anak sedara aku yang bulat cenoni yang nama jolokannya Swit..
AKu ingat nak tidor sana semalam. Then Ahad baru balik la. Minggu ni pun takde apa-apa plan nak keluar.. Best ada akak or Abang yang duduk dedekat.. Boleh lelepak di umah mereka.. Tiap-tiap minggupun aku boleh pergi rumah mereka.. Kalau aku mau tapi..
Abang iparku, Abang Helmi itu tegas orangnya. Dia seorang jurutera. Usia 35 tahun, wajah dan bodynya macam penyanyi Reza.
"Saya bagi kata dua kat awak, awak tolak tawaran ajar Guru Tingkatan Enam tu, atau awak berhenti jer dari mengajar di sekolah tu," Kata Abang ipar aku tegas.
"Ishk, ni peluang saya mengajar semula apa dipelajari kat Universiti dulu, Guru besar suruh mengajar Ekonomi, saya minat dan suka sangat." jawab kakak aku mempertahankan pendiriannya.
"Saya mampu tanggung awak dengan gaji saya, saya suruh awak kerjapun sebab takut awak boring kat rumah. So hope awak boleh paham," sambung Abang iparku dengan muka masam..
Marah betul dengar khabar dari akak aku, Guru besar telah memanggil kakak aku dan meminta supaya mengajar budak-budak form six dalam subjek ekonomi, Abang ipar aku memang agak cemburu. Ada isteri yang cantik macam akak aku menjadi kebang-gaan(cantik bagi pandangan kami semua). Kalau akak aku cantik, aku pun sempoi juga lerr. Hehehehe..
Tolak tawaran untuk mengajar student upper six atau berenti saja dari sekolah.. Dasyat penangan cemburu dari Abang ipar aku. Apa yang dicemburukannya budak-budak sekolah. Aku sengih dan senyum melirik.. So, siapa kata orang lelaki tak sayang bini? Hehehe.. Walaupun diorang dah kahwin dekat lapan tahun dah, tapi Abang ipar aku still sayang kat kakak aku macam dulu juga..
Dan akak aku menghormati keputusan suaminya, Alhamdulillah.. Dia menolak tawaran guru besar itu walaupun hatinya meronta-ronta untuk menunjukkan bakatnya didalam pengajaran Ekonomi. Sabarlah Kak.. Mungkin ada hikmahnya.. Dan Abang Ipar aku tersenyum. Pernah babak itu kudengar. Abang Iparku memang straight forward.
Akakku diseminarnya. Helmi, Abang iparku tidak ke golfnya. Dia di rumah petang itu ketika aku sampai dihantar oleh akakku. Setelah dihantar akak pesan dia lambat balik, minta aku beritahu maklu-mat itu kepada Abang iparku. Dia ada di tempat seminar, Hotel Quality.
Aku pula ke bilik air di tingkat bawah. Berendam dalam bathtub penuh dengan air suam dapat merehatkan badan dan mindaku. Selesai mandi, aku segera keluar dari bilik air. Ooppss!! Aku terlanggar Abang Helmi yang entah dari mana datangnya. Hampir terlucut tuala yang kupakai. Aku terpempan.. Hendak lari semula ke dalam bilik air, rasa terkunci dan kaku kakiku ini.
Abang Helmi juga nampaknya seperti tergamam. Dia memakai ber-muda short tanpa baju melopong memandang dadaku. Mungkin dia hendak ke bilik mandi.. Fikirku.
Tiba-tiba Abang Helmi menghimpit aku ke dinding lalu mengucup bibirku. Aku benar-benar terkejut tapi hairannya.. Aku hanya membatukan diri dan tidak melawan. Seperti merelakan perlakuan Abang iparku itu. Abang Helmi merenungku dalam. Melihat reaksi-ku demikian, sekali lagi Abang Helmi mengucup bibirku. Kali ini kucupannya lebih rakus.. Dan lebih hangat.. Sambil tangannya meraba pehaku dan mengusap cipapku. Jantungku berdebar kencang. Lidah Abang Helmi bermain dalam mulutku. Kucupan Abang Helmi menyebabkan aku lemas.
Dia mengambil kesempatan ini untuk mencium leherku pula. Tidak habis dengan itu, telingaku dijilatnya.. Tangannya mula meramas-ramas buah dadaku yang terpacul keluar dari ikatan tuala itu.. Aku dapat merasakan keras dan tegangnya batang zakar Abang Helmi yang menekan cipapku disebalik tuala yang kupakai ini.
Aku memejamkan mata, mengumam bibirku dengan wajahku berkerut menahan nikmat. Arrgghh.. Aku benar-benar terangsang.. Antara realiti dan fantasi.. Lupakah aku yang sedang mengulit tubuhku ini adalah Abang iparku, suami kepada kakak kandungku?
Seketika Abang Helmi terhenti.. Aku membuka mata. Abang Helmi menarik tanganku menuju ke bilik tetamu. Aku menurut bagaikan dipukau. Abang Helmi membaringkan aku di atas katilnya. Sambil tunduk, dia mencium dahi, mata dan kemudian bibirku..
Abang Helmi mengangkat kepalanya lalu merenung tubuh bogelku. Kedua tangannya meramas, meraba, mengulit leherku.. Bahu.. Menjalar ke buah dadaku.. Perut.. Peha.. Pukiku dan hinggalah ke hujung kaki.. Seolah-olah dia ingin menghayati setiap inci tubuhku ini.
Abang Helmi mempergunakan pengalamannya sedang aku makin ber-debar-debar menanti tindakan Abang Helmi selanjutnya.. Tiba-tiba Abang Helmi bangun lalu mencapai beberapa sachet jem blueberry di dalam peti ais kecil yang ada di bilik tamu itu.
Abang Helmi mengambil jem tersebut lalu dilumurkan ke tetekku. Dengan jari telunjuknya, dia mencolek sedikit jem lalu disapu-kan kebibirku.. Aku menjilat jari Abang Helmi.. Dan kemudian menyonyotnya. Abang Helmi mengerang.. Dengan pantas Abang Helmi menjilat jem yang melumuri buah dadaku dengan rakusnya. Aku mengerang dan menjerit-jerit.
Putingku dinyonyot bagaikan seorang bayi sambil tangannya men-gurut tundun dan membelai bulu tundunku. Sesekali dia menggigit-gigit putingku. Tiba-tiba kurasakan jari Abang Helmi mula mengentel biji kelentitku. Aku mengerang dan mengelinjang.
Tubuhku mengelinjang Ke kiri dan kekanan.. Argghh.. Alangkah nikmatnyaa.. Cipapku kebahahan. Tak dapat kutahan, aku mengerang. Diriku bagaikan diawang-awangan. Abang Helmi semakin bernafsu semakin bernafsu bila aku mengerang kuat dan menjerit halus.. Abang Helmi mengangkangkan kakiku lalu melutut diantara kelengkangku..
Sekali lagi dia mencolek jem lalu disapukan ke clit dan lurah pukiku, kemudian memasukkan dalam gua wanitaku pula.. Seperti yang kuduga, Abang Helmi menjilat-jilat jem di farajku. Bagaikan seekor kucing yang menjilat susu di dalam pinggan sehingga licin.. Lidah Abang Helmi kurasakan begitu kesat.. Dan hangat meneroka lubang pussyku. Tangan Abang Helmi meramas-ramas kedua belah buah punggungku.
Aku keenakan.. Terangkat-angkat punggungku.. Abang Helmi bangun.. Menanggalkan bermudanya. Zakar Abang Helmi mencanak keras. Nafsuku pula menggelojak.. Abang Helmi menindih tubuhku kembali lalu menggomol buah dadaku.. Tanpa kusedar, kukepit badannya dengan kakiku hingga membenarkan dia memasukkan zakarnya ke dalam lubang farajku. Aku mengerang dan meraung.
Tiba-tiba Abang Helmi menggulingkan aku. Kini posisi kami ber-ubah.. Dia di bawah dan aku di atas.. Kini giliran aku pula. Aku jilat telinga Abang Helmi.. Lidahku main-mainkan disitu.. Rambut Abang Helmi kuelus lembut.. Kemudian kucium lehernya.. Kugigit lembut.. Puting dada kanannya turut kusedut.. Sambil tanganku menggentel puting dada kirinya pula..
Kucium dan kujilati tubuhnya bertubi-tubi.. Hinggalah ke zakar.. Kemudian.. Seperti yang dilakukannya, aku lumurkan jem ke kepala zakarnya.. Lalu kujilat-jilat.. Seperti menjilat aiskrim..
Batangnya pula kuurut-urut.. Kukocok-kocok.. Nafas Abang Helmi kian tidak menentu. Dia tiba-tiba menolakku dan menghimpit tubuhku ke bawah semula.. Nafasnya semakin mendesah..
"I can't stand it anymore, Ros" bisik Abang Helmi dengan suara yang bergetar.
Aku angguk perlahan.. Dalam saat begini.. Tiada lain yang kufikirkan.. Hanya kepuasan.. Dan aku benar-benar menginginkannya..
"Yess me too bangg.." desahku mengocok kuat zakarnya.
Sekali lagi kakiku dikangkangkan. Abang Helmi menyuakan zakar-nya memain-mainkan hujung biji kelentitku.. Kemudian menjolok zakarnya ke dalam lubang farajku.
"Argghh.. Abangg Helmi.. Sedap..." kataku dengan nafas sesak. Abang Helmi menekan zakar dan menghenjut kuat ke cipapku..
"Arghh.."
Terasa zakarnya yang tegang itu bergesel pada dinding lubang farajku.. Dia menghenjut dan menghenjut.. Punggungku turut mengikut irama henjutan Abang Helmi.
"Uhh.. Uhh.. Abang Helmi.. Sedapp," aku mengerang.
Henjutan Abang Helmi kian laju.. Aku cuba mengemut tapi tak terasa batang Abang Helmi. Semakin kuat aku mengemut.. Semakin laju henjutannya..
"Ohh.. Bestt.. Nice.. Sedap Ros.. Arghh.. I am cummingg.." jerit Abang Helmi berpeluh.
Abang Helmi memuntahkan lahar spermanya ke dalam rahimku.. Aku.. Terkapar sendirian.. Abang Helmi telentang disebelahku.. Sambil tangannya masih mengusap-usap pukiku. Kami keletihan dengan peluh membasahi tubuh kami. Aku akui, Abang Helmi cepat klimax dan sedikit gelojoh berbanding dengan Boifrenku yang romantik.. Namun.. Ia tetap thrilled..
"You no more a virgin Ros?" tanya Abang Helmi memandang ke mukaku.
AKu senyum.
"Yess.. Anything wrong?"
Abang Helmi tidak menjawab. Dia menjuihkan bibirnya. "Sape yang ambil dara you, Ros?"
"Adalah.. A nice gentleman and a veteran" jawabku bangga dan besar hati.
Abang Helmi diam sambil matanya terkebil-kebil memandang siling bilik. Aku duduk mencapai tuala dan menutup tubuhku. Senyum memandang Abang Helmi.
"I am not that good eh?" sanya Abang Helmi resah.
"Don't worry. As long as Kak Nabila bahagia dengan Abang, You are ok" sataku menjeling dan menjuihkan bibirku kepadanya.
Abang Helmi senyum pahit walaupun dia sudah mengongkekku untuk kali pertama. Tanpa pengetahuan kakakku, perhubungan kami berla-rutan. Abang Helmi mahu selalu bersetubuh denganku. Jadi selain di rumah semasa akak aku tiada, kami nmake love kat rumah sewaku masa member aku tiada, kami buat di hotel dan kami pernah sekali sekala out station. But frankly, aku layan jer dia. Kalau nak kata puas sex, nolah. Seronok jerr.
kisah 25
Aku telah menunggu lebih kurang setengah jam di klinik Dr Wong. Jam sudah menunjukkan 4.30 petang. Sememangnya aku ambil time off untuk keklinik. Ini aku lakukan setiap tiga bulan, untuk memastikan kesihatan aku terjaga. Selain berjumpa doctor aku juga banyak menghabiskan wang membeli dan memakan pil-pil vitamin. Satu demi satu pesakit yang lain masuk berjumpa doctor dan pulang dengan berbekalkan ubat tapi giliran aku belum tiba lagi. Aku menjadi semakin jenuh menunggu. Aku bangkit berjalan kehulu-kehilir didalam klinik, seolah suami yang menunggu kelahiran bayi pertama. Sedar dengan keadaan resah, jururawat memanggil aku dan menerangkan.
“Tunggu sekejap ya Cik Sally. Doktor akan melihat awak setelah semua pesakit lain kerana awak perlukan procedure.” Jelas jururawat yang sememangnya arif dengan nama glamour ku.
Aku bangga dengan nama Sally, walaupun ayah telah buat kenduri semasa menamakan aku Saliah sejak kelahiran aku. Dengan career aku sebagai pegawai pemasaran dan warna rambut yang telah menjadi kekuningan aku lebih di kenali sebagai Sally dari Saliah. Kerana jawatan yang aku jawat, pakaian aku juga sentiasa mengikut trend. Walaubagaimana pun pakaian kerja yang selalu aku kenakan ialah skirt ketat yang panjangnya sampai kepertengahan peha. Didalam sama ada jenis tong atau G string. Kerana ketatnya skirt yang aku pakai (maklumlah punggung aku jenis yang berisi) maka jelaslah alis seluar dalam ku di lihat melalui skirt. Warna pun tak banyak pilihan. Lebih kelihatan professional rasa nya kalau warna gelap aku gunakan, ini termasuklah seluar kecil ku kalau tak hitam putih lah warnanya. Walaupun keadaan cuaca kita panas aku senang dengan menyarungkan kakiku yang jenjang dengan panty hose atau stokin panjang sama ada yang berwarna hitam atau skin colour. Blouse pula biasanya jenis sutera berwarna cerah yang tiada lengan, size sudah semestinya sempit mengikut lekok tubuh yang mengiorkan menonjolkan dada yang bidang. Sementara jaket selalu aku gunakan kerana di dalam pejabat kadang-kadang agak sejuk juga.
Setelah sekian lama menanti aku dipanggil masuk kebilik doktor jam 5.10 minit. Aku membawa bersama beg tangan ku kebilik yang sederhana besarnya. Dr Wong atau Sebastian Wong nama sebenarnya sedang menunggu. Handsome orangnya berkaca mata saperti Clarke Kent dalam cerita superman. Dia menanya “How are you Sally?” sejurus aku melabuhkan punggung ku diatas kerusi bersebelahan meja Dr Wong.
“How can I help you?” tanyanya lagi sebelum pertanyaan pertamanya sempat aku jawab.
“Well the usual check up”. Terang ku ringkas.
Entahlah aku juga merasa hairan dengan keadaan aku yang hypersex. Walaupun asas-asas pelajaran agama, tidak kurang ku pelajari, nafsu ku sering bergejolak menuntut dipuaskan. Lebih-lebih lagi kalau dekat dengan masa datang bulan.
“I think I am due for my pap smear” terang ku pada Dr Wong.
“Your last examination was five months ago, it’s ok to do the test twice a year” jawab Dr Wong setelah dia membolak balik catatan kad yang terletak diatas mejanya.
“I taught it is best every three months?” balas ku.
“That if you are active. Sexually I mean.” jawab Dr Wong lagi.
“I am !!!!” jawab ku selamba tanpa mengenal malu. Sememangnya kita diajukan supaya berterus terang pada doctor supaya rawatan yang kita terima tepat dengan masaalah yang kita hidapi.
Walaupun umur ku baru menjangkau 28 tahun aku rasa aku tidak dapat hidup tanpa seks. Namun pada masa yang sama aku tak mahu dibelengu dengan tanggung jawab sebagai isteri, apa lagi sebagai ibu pada anak kecil. Aku bahagia dengan keadaan aku sebagai career woman. Nafsu yang bergejolak aku layani bersama teman dan kenalan. Aku tak pernah kesunyian tanpa teman lelaki yang tak kurang dari sepuluh. Melancap pun bukan kebiasaan aku melampiaskan nafsu. Malah rasa-rasanya teman-teman lelaki ku tak sabar menunggu-nunggu peluang untuk bersama ku melayari bahtera kenikmatan sementara. Kerana gaya hidup yang sedemikian lah aku mengambil keputusan untuk menjaga kesihatan. Didalam hati aku merasa bimbang juga kalau Allah menurunkan wabak pada ku. Bukan hanya penderitaan penyakit malah malu pada masyarakat yang menghormati ku semata-mata kerana jawatan yang ku sandang.
“Alright I’ll do for you. Is there anything else you want me to see?” Tanya Dr Wong lagi.
“No” terang ku ringkas.
“Nurse can you prepare a procedure for Sally” jerit Dr Wong pada jururawat yang berada di bilik bersebelahan.
Dr Wong menyuruh aku mengambil tempat di pembaringan untuk pemeriksaan. Aku mula melepaskan jaket yang ku pakai. Jaket itu aku sangkutkan baik-baik pada sandaran kerusi yang aku duduk. Ini diikuti pula dengan menanggalkan skirt yang aku kenakan. Aku meraba cangkuk skirt di atas punggung dengan membelakangkan Dr Wong. Aku merasakan yang Dr Wong memerhatikan perbuatan ku. Aku merasa semacam dengan perhatian yang di berikan. Tak dapat aku gambarkan dalam cerita ini. Rasa macam aku ni seksi sekali. Perlahan aku menurunkan zip membelah skirt ketat ku dan menampakkan seluar kecil ku. Dengan lenggukkan badan sedikit skirt aku terlurut, sempat juga aku menjeling pada Dr Wong yang seolah menikmati striptease yang aku persembahkan. Matanya macam tak terkelip tapi mungkin itu perasaan aku saja. Maklum aku telah merasa gairah dan telah mula memancing kalau-kalau ada ikan yang nak mengena. Saperti jaket skirt juga aku lipat sebaiknya dan menyangkutkannya di sandaran kerusi.
“It’s ready doc.” Seru jururawat yang menyiapkan barang-barang yang akan digunakan.
Dr Wong nampaknya tersentak dan terus menuju mengambil tempat, memeriksa barang yang di sediakan. Aku mula berbaring. Dr Wong mengarahkan aku menanggalkan seluar dalam ku yang masih menutup kehormatan ku. Mungkin kerana aku agak lambat DrWong mengambil tindakkan dengan memegang pinggiran seluar kecil seksi ku. Aku mengangkat punggung dan seluar kecil hitam ku meluncur laju melewati kaki ku yang panjang. Taman rahsia ku kini telah terdedah di lihat oleh Dr Wong dan jururawatnya. Dibahagian bawah kini aku hanya dibaluti stoking panjang jarang saja.
Daripada pembaringan ku jelas kelihatan segi tiga bermuda ku yang terbonjol sedikit dihiasi dengan bulu-bulu halus kerinting rapi tersusun kerana sering juga aku mencukur pinggiran tumbuhnya bulu supaya kelihatan teratur. Aku sememangnya tak mencukur botak kerena aku tak mahu taman rahsia aku kelihatan saperti taman rahsia budak hingusan.
Dr Wong melebarkan kangkangan aku. Sejuk air-cond terasa memamah pangkal peha dan lubang syurga yang menjadi perhatian. Bibir kemaluan ku di sibak dengan beralaskan sarung tangan. Aku semakin steam dan terasa mula mengeluarkan air mazi. Dr Wong tidak menghiraukannya tapi meneruskan dengan memilih vaginal speculum yang sesuai dengan lubang syurga yang akan diterokai. Malu yang aku rasa tidak dapat mengatasi kegairahan menyebabkan aku mencuri pandang pada seluar Dr Wong. Nampak nya Dr Wong sangat professional dengan tidak menunjukkan reaksi walaupun dihadapannya aku terpaksa mempamirkan segi tiga idaman ramai lelaki.
Dengan sebelah tangan Dr Wong mengupas gua yang penuh lendir sebelah tangan lagi dia mula memasukkan speculum pada lubang syurga. Aku mula merenggek,
“ah…… eeeeeeeeeeh….”
“It’s a bit uncomfortable don’t worry,” jelas Dr Wong.
“You have enough lubricant. There won’t be any pain,” terangnya lagi sambil terus membenamkan speculumnya pada lubang syurga ku yang sempit. Aku semakin merenggek.
“aaaaaaaaaaaah……” sambil punggung ku terangkat sedikit.
Mungkin faham dengan keadaan aku atau sememang sudah masa menutup klinik Dr Wong mengarahkan jururawat yang menjadi chepronnya menutup klinik dan pulang. Sejurus selepas jururawat meninggalkan kami aku mengambil kesempatan meramas diantara pangkal peha Dr Wong.
“ Oh please Sally I am working………” sambil mundur kebelakang. Dr Wong bersikap professional.
Dr Wong mula mengambil cotton bud dan mengambil lendiran pada dinding saluran menuju ke syurga dunia. Itu membuat aku menjadi semakin gairah dan mencuba menangkap bodek Dr Wong lagi. Aku bernasib baik kerana Dr Wong tidak mengelak lagi tetapi meneruskan menerokai lorong sempit dengan menguis-guis dindingnya. Sambil merengek dan mengeliat sedikit aku meramas-ramas senjata Dr Wong dibalik seluarnya yang mula mengeras. Tindak balas yang diberikan membuat aku semakin berani lalu menurunkan zip seluar Dr Wong. Dengan sedikit bersusah payah aku mengeluarkan senjata Dr Wong dan mula mengusap-usap dari hujung kepangkal. Topi keledar Dr Wong kelihatan tertutup bila aku menarik kehujung dan keluar mengilat bila aku menurunkan urutan kepangkal. Aku begitu takjub dengan pemandangan itu dan terus mengurut dengan lembut. Baru kali ini aku melihat keadaan kemaluan lelaki yang tak sunat.
Dr Wong siap dengan apa yang di perlukan lalu menyimpan cotton bud yang berlendir didalam botol sementara beliau sendiri menyerahkan super rodnya untuk aku membuat pemeriksaan dengan lebih teliti. Aku terus bangun dari pembaringan dan melepaskan terus tali pingang dan melurutkan seluar dan seluar dalam Dr Wong. Kalau tadi aku hanya menggunakan sebelah tangan kini satu tangan aku meramas-ramas buah pelir sementara yang lain aku mengurut super rod yang semakin panjang. Dihujung super rod sudah mula kelihatan air bening saperti embun dihujung daun di waktu pagi. Dengan mengunakan ibu jari aku mengilap meratakan air bening itu keseluruh kepala takuk Dr Wong. Kepala takuk itu menjadi semakin kilat dan ini lebih membangkitkan kegairhan ku. Jari jemari ku menarik lagi kehujung super rod dan memerhatikan buah pelir Dr Wong.
Anih sungguh anih kelihatan nya. Kerana Dr Wong berbangsa Cina, buah pelir beliau tidak berbulu. Bulu yang sedikit hanya tumbuh diatas pangkal super rod. Kerandut pelir aku perhatikan bergerak-gerak mengecut dan mengembang. Gerakkannya yang perlahan mengecut membuat buah pelir itu kelihatan membulat. Tetapi lebih lama sedikit aku dapati dengan sendirinya pelir itu mula mengembang dan terlondeh. Geram dengan keadaan itu aku meramas dengan lembut pelir itu. Sementara mulut ku mulai mengulum, mencium kepala takuk Dr Wong. Kuluman itu aku teruskan sehingga keseluruhan batang super rod berada didalam mulut ku. Sebelum kepala takuk Dr Wong terlepas dari mulut lidah ku pula akan menjalar menjilat kepala takuk dan keseluruh batang super rod. Perbuatan ku itu rasa-rasanya menerima response yang baik kerana Dr Wong kelihatan hanya memejamkan mata menikmati permainan mulut ku pada super rod beliau. Permainan mulut berterusan dan aku mengubah posisi dengan menyangkung, muka ku menghadapi super rod Dr Wong yang kini telah mengambil alih duduk dimeja pemeriksaan.
Puas dengan acara kuluman aku bertindak lebih berani menerajui permainan dengan menelanjangi Dr Wong. Jaket, baju seluar dam seluar dalam tidak lagi menghambat pemandangan aku pada tubuh sasa Dr Wong. Aku mencium dan mengulum sedikit lidah nya dan membaringkan beliau. Aku yang hanya di tutupi bahagian atas menyelapak diantara tubuh Dr Wong yang sedang menunggu. Dengan memegang super rod supaya berdiri tegak aku melunsuri super rod mengunakan taman rahsia ku yang penuh dengan lendiran. Hayunan yang tak tentu iramanya aku mulakan. Daripada perlahan hayunan menjadi semakin laju. Diiringi dengan rengekkan aku kerana nikmat yang tak berbelah bagi. Rasa-rasanya kenikmatanitu berpusat langsung di pintu-pintu syurga yang menjadi idaman ramai teman lelaki ku. Kini Dr Wong pula terkulai layu dengan kenikmatan hasil kemutan terowong segi tiga aku.
Acara hayunan itu terhenti pabila Dr Wong mula menarik pinggan ku supaya aku tak dapat bergerak lagi, lalu dia meneran kuat melepaskan air mani nya ketakungan rahim ku. Beberapa das peluru pekat panas menyiram taman syurga ku. Aku mengambil tindakan mengemut-ngemut saluran faraj ku ini menimbul kan kegairahan yang terpusat ditaman syurga dan aku jua terkulai dengan kelazatan menikmati bahtera perzinahan.
Aku bangun dari tempat pendayungan mengambil tissue membersihkan diri dan membersihkan rod yang dah tak super terkulai saperti tuannya yang aku baru rogol.
“Thank Dr Wong. Call me when the result is ready” aku meninggalkan Dr Wong di bilik pemeriksaan.
kisah24
Yeahh… Kalau boleh jadi kaya. Mahu jadi kaya terus-terusan. Ya, tapi apakan daya. Yang sederhana dan Yang miskin sama sahaja. Mesti melalui kehidupan ini mahu atau tidak mahu. Tiada pilihan. Namun sedemikian, ada waktunya N terbahagia kerana dapat menumpang kemewahan orang lain sedangkan bapanya tidak mampu memberikan apa yang diperlukan olehnya.
N menumpang gembira dengan rakan akrabnya, Hashim. Dia ini anak Dato' dan Datin. Soal duit, soal pakaian dan sebagainya kepada Hashim tiada masalahnya. Dia ada pendapatan bulanan yang diberikan kepadanya oleh ayahnya. Manusia macam N, tak kira… Ada waktu berduit adalah, ada waktu tiada, tak boleh buat apa-apa.
Di sebuah rumah banglo di kawasan Jalan Telok Sisek, Kuantan. Rumah gedang berkawasan. Ini sebuah kawasan elite. Sunyi kerana rumah letaknya agak jauh di antara satu sama lain dan setiap kawasan berpagar. Rumah sahabat N, Hasyim berada di dalam kawasan ini. Dekat dengan Laut Cina Selatan. Nampak Tanjung Api dan Tanjung Lumpur.
Kebetulan kumpulan studi itu mengandungi N, Hasyim dan Zainal. Mereka berkumpul Sabtu dan minggu untuk mengulangkaji mata pelajaran. Samada di rumah Hasyim atau Zainal. Ibu Hasyim adalah Datin Aminah (48 tahun), manakala ayahnya, seorang pegawai Kanan Kerajaan Negeri, Dato Omar (53 tahun). Hasyim anak ketiga, dia mempunyai dua orang kakak yang belajar di luar negara dan dua orang adik. Mereka lima beradik.
N sudah mesra dan biasa dengan keluarga Hasyim dan Zainal. Malah N sanggup merumput laman rumah Hasyim bila rumput di kawasan banglo itu sudah panjang. Dia kena menggunakan mesin pemotong rumput untuk memotong.
"Tak yah Datin, tak yah upah," kata N menolak pemberian upah dari Datin Aminah, ibu Hasyim satu petang.
"Ishh jangan gitu, datin bagi nie buat belanja.." balas Datin Aminah senyum mulus sambil menepuk bahu N.
N serba salah.
"Mekasih Datin.." N mengambil juga duit note RM10 itu lalu menyimpan dalam dompetnya.
N melihat Datin Aminah dari belakang. Wanita, ibu kepada kawannya itu masih cantik. Tubuhnya masih mempunyai potongan yang menarik tambah buah dadanya agak besar dengan punggungnya bulat dan lebar. Orang senang dan berduit selalu merawat tubuh tambah suami Dato pula. Banyak saingan dan pengoda. Wanita yang sudah menjangkau 48 tahun itu masih ngam, masih sedap dipandang dan masih mengebu merangsang syahwat anak muda.
Oh Datin Aminah, Mama kawanku..
Pulau pandan jauh ke tengah
Gunung daik bercabang dua
Hancur badan dikandung tanah
Budi baik dikenang jua
N senyum. Senyuman yang mengamit flashback. Sesuatu yang tiada diduga dan tiada disangka. Sesuatu yang menyentak rasa dan ternyata bagaikan tidak percaya. Namun setiap kejutan menguntungkan N.. Kejutan yang ini juga tidak terkecuali. Cayalah…
Datin Aminah berkulit cerah
Punggungnya padat cipapnya tembam
Sudah dipanah payudara diperah
Lubangnya sendat menahan geram
Datin Aminah berbogel sudah
Payudaranya kental keras panas
N mencecah mencepap memindah
Menyodok memintal butuhnya ganas
N mencumbu Datin mengebu
Cipapnya madu lubangnya sendu
N membubu Datin terkedu
N menyudu butuhnya beradu
N menyudu cipap Datin Aminah. Lidsahnya bermula di atas tundun, menjangkau ke kelentit. Di kelentit lidahnya menjilat, kemudian mengulom kelentit itu dan memainkan lidahnyanya di sekeliling kelentit dalam mulutnya.
Datin Aminah mengeluh, mengelus, mengelinjangkan tubuh besarnya dan buntut pejalnya mengagah ke mulut N. Payudaranya besar, walaupun meluyut tetapi masih pejal, putingnya cokelat hitam, besar ibu jari dan N mula menghisap dan memainkan lidahnya. Datin Aminah mengerang..
"Wowww.. you are good young man," desah Datin Aminah.
N menjilat perut Datin Aminah yang kelihatan pecah kulitnya walaupun tidak banyak. Dia mengerutkan mukanya. Rambutnya yang ikal diikatnya dengan getah. N menjilat dan mencium belakang tengkok dan mengulum telinga Datin Aminah membuatkan wanita itu mengerang kuat. Hisapan N pada puting Datin Aminah membuatkan wanita berusia itu mengeliat ke kiri dan ke kanan tanda asyik dan nikmat.
Datin Aminah mengangkang pehanya lebar-lebar. Dia memegang batang zakar N dan membelainya. Kemudian mengocok batang zakar N geram.
"Oh my god.. Besar, panjang cock you my boy.. Nice... I like it."
N menyembamkan mukanya penuh di tundun dan di cipap Datin Aminah yang tembam itu. Kemudian lidahnyamenjalar ke lurah yang berair lalu menjulurkan lidahnya ke dalam lubang faraj
Datin Aminah yang sudah mengangkat punggungnya tepat rapat ke muka N. Datin Aminah mengerang kuat dan mendesah-desah. Kemudian N melekap mulutnya ke lubang faraj datin Aminah lalu menyedut membuatkan datin Aminah mengelinjang kuat ke kiri dan ke kanan, mengertap gigi dan bibirnya..
"Ooo.. Uuu.. Nice.. Sedapp."
Datin Aminah mewmegang kuat batang zakar N dengan tangan kirinya sambil meramas-ramas kasar. Dia menghela nafasnya dan berdehem panjang. Kini N memasukkan kepala zakarnya ke lubang faraj Datin Aminah.
"Ooo, O gog.. Terasa besar boy.. So goodd and so nice..." keluh datin Aminah bila penis N sudah masuk ke dalam vagina Datin Aminah.
N meramas payudara Datin Aminah, mengulum puting susu Mama kawannya. Datin Aminah mengeliat, mengeluh dan mendesah sambil mengangkat punggungnya menerima hentakan dan henjutan N. Dia merasa ngilu kerana vaginanya berinteraksi dan bertindak mengcengkam batang zakar N yang sedang ditujah masuk dan keluar di lubang vaginanya. Dia mula berair..
"Arghh.., urghh.. Arghh.. I m cummingg boy!"
N meneruskan hentakan dan henjutannya kian laju, kuat dan ganas. Datin Aminah menjerit-jerit kecil sambil meramas-ramas rambut di kepala N kemudian memeluk N.
N pula meneruskan henjutannya dan dapat merasakan kemutan vagina Datin Aminah dan airnya sudah banyak keluar melimpah dari lubang farajnya. Jeritan Datin Aminah bertambah, nafasnya semput dan pendek-pendek. Badannya mengigil bila N mengeluarkan batang zakarnya yang keras lalu menyembam semula mukanya ke cipap Datin Aminah. Kemudian menjilat dan menghirup jus-jus madu di vagina Datin Aminah yang merangsang syahwat dan melembabkan tekak N. Jus madu di cipap Datin Aminah dijilat dan dihirup sehingga kering semula.
Lalu N sekali lagi menujah penisnya ke dalam lubang madu di vagina Datin Aminah. Datin Aminah menjerit dan mengangkat bontotnya menerima kembali zakar N yang keras dan besar itu. Dia menerima semula henjutan anak muda, sebaya anaknya itu. Dan kawan baik anaknya pula tetapi butuh N lebih besar, kuat dan panjang dari milik anak atau suaminya. Yang itu tetap diakui oleh Datin Aminah dan dia kesedapan yang amat sangat.
Datin Aminah meracau dan dia sudah klimaks tiga kali dan N masih menghenjut cipapnya kuat-kuat. Dia suka, dia berasa bangga dikongkek oleh kawan anaknya. Dia masih mampu disetubuhi dan memberi kepuasan kepada lelaki. Cuma dia sedih suaminya sudah berasa kendur terhadap tubuhnya. Jarang sekali menyentuh cipapnya. Membiarkan cipapnya kemurungan anpa dijengah-jengah.
"Uwaa.. Uwaa.. Ooohh. Ohh.. Makcik nak kuarr lagii.." jerit Datin Aminah dengan nafasnya berdesah panjang dan berkeroh bagaikan lembu disembelih. Badannya terangkat-angkat menahan kegelian yang amat sangat dan mencapai kemuncak yang penuh nikmat. N mengemaskan henjutannya, kuat dan dalam-dalam ditekan tubi-tubi ke lubang faraj Datin Aminah.
Akhirnya N sendiri menjerit mengeluarkan maninya tepat ke dinding syok dalam faraj Datin Aminah. Datin Aminah menjerit sama sambil mengepit punggung N dengan kedua belah kakinya. Mereka bertukar racau, erang, elus dan kerohan. Sunguh nikmat dan sedap.
Datin Aminah benar-benar puas mengecap persetubuhan itu. Dia memuji kemampuan N.. Dan perbuatan itu bukanlah yang pertama dan terakhir dilalui oleh N malah ada lagi yang mengasyikan. Namun N pandai menyimpan rahsia, sahabat baiknya tidak tahu yang N telah menyetubuhi Mamanya. N menikmati kehidupan yang bahagia dan sederhana. Dia memiliki ramai makcik angkat yang menjaga keberadaan dan kepentingannya.
Wow sungguh nikmat.. N berpuas hati. Sangat senang mengongkek makcik Sawiyah dan Datin Aminah..
Subscribe to:
Posts (Atom)
